Jumat, 21 Mei 2010

Waiting For BABY ...



Saya baru selesai melihat gambar-gambar BABY dari beberapa situs internet.

Whaa ..
Rasanya tidak sabar untuk menimang baby. Sudah hampir satu tahun saya dan suami menunggu kedatangannya. Tapi mungkin yang Kuasa belum juga memberikannya pada kami .
Saat keluarga dan juga teman-teman menanyakan kehadirannya "Putri..Gimana, udah isi belum?? Putri..Suksess ngga? Putri..Udah sampe mana kerja kerasnya??", saya hanya bisa menjawab "Amiin, doanya saja yaa ..".
Apalagi selain jawaban itu yang bisa saya jawab. Jujur, saya kecewa sampai saat ini belum juga diberi momongan. Padahal dari hasil pemeriksaan, di rahim saya ini bersih dan tidak ada gangguan apapun. 
Terus apa penyebab saya belum juga bisa memberika baby untuk suami saya dan cucu untuk orang tua saya?? Apa penyebabnya?? Mungkin hanya Allah yang bisa merubah situasi ini.

Apakah harus menggunakan teknologi untuk membantu kami? Tapi masih terlalu dini unutk menggunakannya. Mungkin lagi-lagi, SABAR dan jangan LELAH MENUNGGU. Ya, saya masih semangat untuk berusaha dan terus berdoa memohon padaNya.
Teman-teman, minta doanya juga yaa...

Kamis, 13 Mei 2010

Pahlawan Devisa Negara

Lagi lagi, dari media saya mendengar terdapat perlakuan tidak adil terhadap pahlawan devisa negara kita.

Sebenarnya apa yang menyebabkan para TKW tersebut mendapat berbagai perlakuan tidak adil seperti itu?!

Apakah orang2 di negara tetangga kita ini memiliki sifat2 yang keras,sombong,dan pemarah?

Mengapa mereka tidak menghargai kerja keras para TKW yang jauh2 bekerja mencari sesuap nasi ke negaranya?

Mengapa hanya dibalas dengan kekerasan fisik dan mental?
Patah tulang,terbayang di benak saya para majikan itu memukul dengan sesuatu yang menyebabkan tulang menjadi patah.
Jari jemari terputus,saya rasa para TKW tak pernah membayangkannya. Inginnya hanya mencari nafkah, tetapi bahaya mengancam hidupnya.
Badan disetrika, haloo para TKW ini manusia, bukan kain yang bisa disetrika!
Memar2 di bagian tubuh tertentu,itu sudah jamak didengar. Kebanyakan TKW yang pulang ke Indonesia membawa oleh2 memar di beberapa bagian tubuhnya.

Hanya beberapa TKW yang membawa cerita indah saat bekerja di negara orang...
Ckckck, miris sekali saya mendengar kejadian yang sudah kesekian kalinya ini.

Ataukah kekerasan tersebut terjadi karena para TKW ini yang tidak tahu etika saat bekerja di negara orang, sehingga membuat kesal majikannya?

Terus, bagaimana pemerintah menghadapi kasus yang terus menerus muncul satu persatu ini?

Senin, 10 Mei 2010

Yang Terlewatkan (cerpen)


Meskipun hujan masih terus turun dengan deras, Decha tetap berniat menepati janjinya. Cewek hitam manis ini bergegas dengan Vios hitamnya menuju bandara Halim. Kabar terakhir, pukul 16.50 WIB, seseorang yang ditunggunya sudah akan tiba. Lima belas menit Decha menunggu dalam mobilnya, sembari berharap hujan segera reda. Namun ternyata hujan tak juga reda, ia lalu mengambil payung yang tersedia di dalam mobilnya, dan segera menuju kursi tunggu.

Jam di handphonenya sudah menunjukkan pukul 16.55 WIB, namun belum tampak juga seseorang itu. Dengan rasa cemas, Decha menatap satu persatu orang yang keluar dari tempat kedatangan penumpang.

“Belum ada juga, Gas! Ini gue juga bingung banget, kok dia ngga muncul muncul sih? Mana gue sendirian lagi, coba aja loe tadi ngikut!” ucap Decha memberi kabar pada Bagas lewat telepon genggamnya.

Decha masih menunggu, kali ini ia berusaha menenangkan dirinya. Berulang-ulang Decha melirik jam dihandphonenya, dan sesekali melihat ke arah tempat semula.

“Ya ampun Bagas, ini telepon loe yang ke tujuh tau ngga?! Gue belum ketemu dia! Loe jangan bikin gue tambah khawatir deh, nanti kalo gue udah ketemu pasti gue kabarin loe, kok..” ujar Decha pada Bagas yang lagi-lagi meneleponnya.

“Apa ada masalah ya sama dia? Masak sih dari begitu banyak orang gini, gue belum juga nemuin dia” gerutunya dalam hati. Mudah-mudahan aja ngga ada apa-apa sama dia” harapnya masih dalam hati.

Tak lama kemudian, seseorang menghampiri Decha. Decha yang sedang duduk berpangku tangan, melihat sosok itu perlahan-lahan mulai dari bagian bawah hingga bagian atas. Sepatu keds, blue jeans, dua kopor hitam, satu kopor merah, kaos tanpa lengan, itulah urutan benda yang ia lihat, yang dikenakan sosok yang menghampirinya itu.

“Yulia???” Decha segera berdiri dari duduknya. Dengan sedikit berlebihan, ia lalu memeluk Yulia, sahabat semasa SMAnya. “Apa kabar loe?” lanjutnya sembari mencium pipi cewek berkulit kuning langsat itu.

Yuliapun membalas pelukan Decha “Gue baik-baik aja, loe gimana? Kangen banget gue sama loe..” sambung Yulia.

Sambil terus memeluk sahabatnya, Decha baru tersadar sekelilingnya tengah memandang mereka berdua. “Kayaknya orang-orang ngeliatin kita nih, Yul..” ujar Decha yang segera melepas pelukannya.

“No no, jangan sampe mereka menyalahartikan kita ya..” jawab Yulia, yang disertai tawa keduanya. Decha lalu membantu menggiring satu kopor bawaan Yulia menuju mobilnya, dan segera menggas mobilnya meninggalkan bandara.

“Kita ngafe dulu ya, loe ngga langsung ada acara kan?” tanya Decha diiringi gelengan kepala Yulia. “By the way, kok loe bisa lama banget sih keluarnya? Gue udah panik banget tau ngga, gue pikir ada masalah apa gitu sama kedatangan loe..” lanjutnya sembari terus melajukan mobilnya.

“Ngga kok, ngga ada problem apapun tadi. Ya udahlah, toh sekarang ini gue udah ada di sini kan? jawab Yulia sembari melihat-lihat CD koleksi Decha.

“Nih pasti si Bagas lagi deh!” gerutu Decha ketika handphonenya berdering. Ia lalu mengambil handphone yang masih di saku celananya. “Ia, Gas, gue udah ketemu Yulia kok, sekarang gue mau mampir ke café dulu nih” ujar Yulia sedikit terburu-buru.

“Sayang, ini bunda..” ucap suara diseberang sana.

“Bunda? Decha pikir Bagas, soalnya tadi di bandara dia teleponin Decha melulu. Maaf ya, Bunda” jelas Decha. “Oia, Bun, Decha udah ketemu Yulia, tapi Decha ngga langsung pulang ya, Bun. Soalnya mau ngobrol banyak dulu sama dia” lanjutnya.

“Ya udah, hati-hati ya. Salam buat Yulia, jangan lupa Yulia mampir ke sini” jawab Bunda yang lalu menutup teleponnya.

“Gue pikir si Bagas, gue sampe lupa ngabarin dia. Gue telepon dia dulu ya” ucap Decha. “Eh, tapi gimana kalo loe yang telepon dia? Kan surprise tuh buat dia, sekalian ajak ngafe juga” sarannya.

“Ia, gue juga sampe ngga nanyain dia, bisa kelupaan gini. Tapi kenapa dia ngga ikut jemput gue?” tanya Yulia.

“Ya gue juga pengennya dia nemenin gue, tapi loe tanya aja sama orangnya kenapa ngga bisa ikut” lanjut Decha sembari mencari tempat parkir di café langganannya.

Setelah memesan beberapa makanan camilan dan minuman, tak lama kemudian Bagas datang menghampiri, dan segera memeluk Yulia. “Kangen gue sama loe, loe baik-baik aja?” tanya Bagas yang kemudian duduk di kursi sebelah Yulia.

“Fine, gue baik kok, Gas. Gimana kerjaan loe? Gaya yah, sekarang jadi Pa’ Polisi..” sindir Yulia.

Satu jam berlalu begitu cepat, setelah cukup puas kangen-kangenan, Bagaspun harus kembali bertugas menuju kantornya. Dan karena keluarga Yulia juga menunggu kedatangannya, Decha melajukan mobilnya menuju rumah Yulia.

***

Keesokan harinya, Yulia menjemput sahabatnya untuk memintanya mengantar keliling Bandung, ia begitu rindu akan segala tentang Bandung.

“Oia Dech, hampir aja gue lupa. Ada salam tuh buat loe..” kata Yulia sambil terus menggas mobilnya.

“Salam? Hari gini masih jaman salam-salaman lewat orang lain?” ucapnya sambil melihat ke arah Yulia. Yulia hanya mengangkat kedua bahunya dan tersenyum atas pertanyaan sahabatnya itu. “Masa sih, emang dari siapa?” lanjutnya.

“DONI” jawab Yulia singkat.

“Doni?” tanyanya dalam hati. Mendengar nama itu, semua rasa tercampur di hati Decha. Seneng, kaget, GR, tapi sakit hati juga. Cuma karena satu nama cowok itu! “Tapi ntar dulu, Doni yang mana dulu nih?” tanyanya lagi dalam hati. Lamunannya buyar setelah Yulia memutar CD Rihana dalam mobilnya.

“Kok diem? Why?” tanya Yulia sambil sedikit menggoyangkan badannya mengikuti irama lagu yang di dengarnya.

“Ehm.. Maksud loe Doni yang mana sih, Yul?” tanya Decha sekali lagi, membunuh penasarannya.

“Yang mana lagi sih? Loe ngga pura-pura stupid kan? Temen satu angkatan kita, yang mana lagi sih yang namanya Doni?” jawab Yulia dengan harap Decha tahu Doni yang dimaksud.

“Hmm.. ia juga ya. Mana ada lagi yang namanya Doni, yang satu angkatan sama gue?” pikirnya dalam hati.

“Loe kok jadi diem gitu sih?” selidik Yulia.

“Ngga kok, gue ngga apa-apa, Yul..” jawabnya beralasan. “Doni.. Doni.. kemana aja sih loe? Lama juga ngga denger kabar loe..” ucapnya masih dalam hati lagi. Beberapa menit Decha terdiam, bukan menikmati alunan lagu yang sedang diputar di dalam mobil ini, tetapi terus teringat bayang-bayang Doni. “Kapan dan dimana ya Yulia ketemu sama Doni?” pikirnya sembari menatap ke arah sosok sahabatnya ini. Ia ingin menanyakannya pada Yulia, namun tampak Yulia sedang mengotak-atik telepon genggamnya.

“Dech, tolong kecilin dulu tuh volume tapenya” pinta Yulia. “Huh finally” lanjutnya lagi. “Lagi dimana sih loe, gue hubungin susah banget?” tanya Yulia sedikit ngambek pada orang yang sedang di teleponnya itu. “Engga.. gue mau kasih surprise aja sama loe” sambung Yulia lagi. “Bentar ya, loe langsung ngomong sama orangnya aja nih..” Tanpa basa-basi, Yulia memberikan ponselnya pada Decha.

“Siapa?” tanya Decha sambil melihat layar telepon genggam Yulia, barangkali ia juga tahu nomer yang dihubungi Yulia ini.

“Udaah, loe ajak dia ngobrol aja..” pinta Yulia berbisik, membingungkan Decha. Decha yang masih bengong, malah semakin bingung karena kelakuan anehnya Yulia.

“Ha .. halo?” katanya sedikit terbata-bata. “Aduuh, Yul siapa sih? Gue mesti ngajak ngobrol apaan?” tanya Decha sedikit berbisik, ngga peduli orang itu mendengar ke-begoannya.

“Ini gue Doni!!” ucap suara di seberang sana sedikit berteriak. Suara yang membuat Decha semakin jantungan. “Halo.. halo.. halo..” suara itu terdengar lagi.

“Eh.. sorry sorry. Hai.. Hai apa kabar loe?” tanya Decha basa-basi. Merekapun bertukar nomor telepon dan membuat janji untuk bertemu.

“Ciee.. CLBK dong..” goda Yulia sembari senyam-senyum puas setelah Decha mengakhiri perbincangannya dengan Doni.

“Apaan sih, biasa ajalah!” gerutu Decha.

“Hmmm.. ngambek. Tapi seneng kan loe?” tanpa hentinya Yulia terus menggoda Decha.

“Seneng gimana? Emangnya jaman SMA dulu, ngeliat Doni dari jauh aja senengnya minta ampun..” jawab Decha dalam hati. “Loe tu ya, ngga berubah emang dari dulu, jangan-jangan di New York malah dalemin ilmu comblang-comblangin orang ya?” lanjutnya, balik menggoda Yulia.

“Bisa aja loe. BTW, loe seneng ngga?” tanya Yulia masih penasaran.

“Seneng? Seneng ketemu loe? Ya seneng lah, seneng banget malah!” jawab Decha sembari mengambil telepon genggam dalam tasnya, ia segera memasukkan nomor Doni ke dalam kontak dengan nama “Yang Terlewatkan”.

“Hmm bukan itu, maksud gue apa loe seneng bisa tau kabar Doni lagi? Bisa ngobrol sama Doni, first time kan loe bisa ngobrol sama dia walaupun lewat telepon?” lanjut Yulia yang begitu antusias menyatukan Decha dan Doni.

“Yul, gue udah ngga ngarepin dia lagi semenjak kita lulus SMA. Jadi, kalo sekarang loe tanya perasaan gue, gue biasa aja!” jelas Decha meyakinkan Yulia. “Doni itu masa lalu gue!” lanjutnya lagi.

“Loe tuh ngga usah bohongin diri loe gitu. Waktu gue masih di New York, loe sering banget curhat tentang Doni lewat email loe ke gue. Maksudnya apa coba selain loe masih harepin dia sampai detik ini? Loe tuh..”

“Apaan sih! Ngga lah, Yul..” potong Decha. “Males gue ngelanjutin perasaan gue, gue ngga mau ngejar-ngejar dia lagi. Cukup kebodohan gue semasa SMA aja!!” lanjutnya lagi.

“Hmm, ni orang emang ngga berubah ya. Gimanapun, dia tetep sahabat gue” ucap Yulia dalam hati. “Ya udah, sorry, gue ngga maksud bikin loe ngambek..” lanjutnya.

“Udah ya, ngga usah ngomongin dia lagi, please..” pinta Decha.

Belanja, makan siang, nonton di XXI Ciwalk, foto studio, cukup memuaskan untuk hari ini. Yulia kembali menggas mobilnya, hendak mengantar sahabatnya kembali ke rumah. Setelah makan malam di rumah Decha, Yuliapun berpamitan pada orangtua Decha.

“Loe tidur sini aja dong, kamar gue juga kangen sama loe, udah lama banget kita ngga ada acara nginep-nginepan kan?” pinta Decha saat mengantar Yulia ke depan gerbang rumahnya.

“Lain kali ya, loenya juga masih ngambek kan gara-gara omongan gue tadi?” ucap Yulia sedikit menyesal.

“Ya enggalah, loe kayak baru sekali ini aja nasehatin gue..” jelas Decha berharap sahabatnya tidak salah sangka. “Sorry, gue ngga maksud marah sama loe, gue cuma bingung sama perasaan gue aja..” lirih Decha.

“Sebenernya, kemarin sebelum gue ketemu loe di bandara, gue ketemu sama Doni..” jelasnya. “Yang dia tanya pertama kali, bukan kabar gue, tapi nanyain loe..” lanjutnya. “Akhirnya gue ngobrol sebentar sama dia. Ya, walaupun ngga banyak cerita tentang loe, tapi gue NGERTI banget kenapa dia KAYAK GINI sama loe..” sambungnya lagi.

“Maksudnya, kayak gini gimana?” Dechapun penasaran.

“Yah.. loe tunggu aja, biar dia yang jelasin semuanya. Toh, loe juga besok janjian ketemuan kan sama dia? Pesen gue, loe ngga boleh bohongin perasaan loe. Gue balik dulu ya..” Yulia memeluk sahabatnya ini dan segera menuju mobilnya. “Jangan lupa, besok ceritain ke gue ya pertemuan pertama kalian..” ucapnya dari balik kaca mobilnya.

Decha berjalan menuju kamarnya, cuek dengan sapaan abangnya yang sedang nongkrong depan tivi. Hanya bayangan Doni yang melekat dan perasaan tidak menentu yang hinggap. “Yulia NGERTI banget kenapa Doni KAYAK GINI sama gue, maksudnya apaan sih? Yulia emang sok tahu, atau apa sih yang diceritain Doni ke Yulia?” semakin penasaran, semakin bertanya-tanya, dan semakin ingin mendapat jawabannya. “Kok gue kepikiran Doni ya? Jangan sampe perasaan itu muncul lagi!” lanjutnya sembari menutup tubuhnya dengan selimut.

***


 
Tepat jam setengah tujuh malam, Doni dengan motor gedenya sudah tiba di depan rumah Decha. Sebenarnya, Decha masih bingung kenapa ia mau menerima ajakan makan malamnya Doni. Padahal semenjak lulus SMA, orang yang paling ia benci dan tidak berharap bertemu lagi adalah Doni. Setelah pamitan pada bundanya, Decha segera berlari ke arah teras depan, ingin segera melihat Doni yang dimaksud.

“Ini bener-bener kenyataan, dia beneran Doni yang dulu gue harapin banget!” ucapnya dalam hati ketika pertama kali melihat Doni di depan mata. “Ini mimpi gue sewaktu SMA, kenapa baru jadi kenyataan sekarang??” lanjutnya lagi.

Sepanjang perjalanan, yang menjadi bahan obrolan hanya seputar masa-masa SMA. Membicarakan teman-teman Decha, teman-teman se-genknya Doni, membahas guru-guru killer, membahas sekolah yang sekarang sudah direnovasi abis-abisan, sampai membahas rencana reunian SMA angkatannya. Perjalanan bisa terhitung menit, kira-kira setengah jam mereka sudah sampai di tempat tujuan.


 

Sembari menunggu pesanan datang ke meja mereka, mereka juga banyak berceritera. Sesekali Decha memandang lelaki impiannya ini tanpa sepengetahuan Doni. Ia seakan masih tidak percaya Doni ada di hadapannya.

“Loe udah ada cowok?” tiba-tiba terlontar pertanyaan itu dari bibir Doni.

“Hagh?” tanya Decha terkejut. “Ya ampun.. Jangan sampe dia tau kalo gue lagi mandangin dia tadi..” ucapnya dalam hati.

“Ditanya gitu aja kaget..” ucapnya sembari balik memandang Decha.

“Ngga usah bahas itu deh..” jawab Decha sambil menundukan wajahnya ketika sadar Doni sedang melihat ke arahnya.

“Kenapa, gue ngga boleh tau?” tanyanya singkat. “Kalo loe udah ada yang punya, berarti gue ngga boleh sering-sering ngajak loe jalan. Terus, kalo loe belum ada yang punya, berarti gue bisa terus ngajak loe jalan. Maksud gue gitu, Decha..” lanjutnya lagi.

“Hah?? Doni nyebut nama gue?!” ucapnya dalam hati. “Loe tau nama gue, kirain ngga kenal gue??” lanjutnya sedikit sinis sembari meneguk minuman yang baru diantar waitreesnya.

“Secara dulu kita satu sekolah, pernah satu kelas juga. Walaupun ngga pernah ngobrol, tapi bukan berarti gue ngga kenal loe, bukan berarti ngga tau loe, dan bukan berarti gue ngga merhatiin loe..” jelas Doni panjang lebar, sembari masih menatap ke arah Decha.

“Ucapannya bikin gue GR nih. Gila kali dia, ngomong kok ngga pake basa-basi sih!?” pikir Decha dalam hati.

“Hmm.. oke deh kalo loe ngerasa ngga kenal gue, kita kenalan dulu aja gimana?” ucapnya sedikit bercanda sembari mengulurkan tangannya berharap Decha merespon uluran tangannya itu. “Gue Doni, temen SATU KELAS loe di SMA dulu..” lanjutnya.

“Loe bisa aja deh..” lanjut Decha merespon uluran tangan Doni dan secepat mungkin melepas jabatan tangan itu.

“Bisa juga loe ketawa..” sindirnya. “Ya udah, sekarang itu makanan jangan diliatin aja. Makan dulu yuk, keburu dingin, nanti ngga enak lagi..” ajak Doni sambil membuka sendok yang dibungkus tissue dan kemudian melahap makanan yang dipesannya dua puluh lima menit yang lalu itu.

“Doniii ..” lirihnya dalam hati sembari memandang Doni.

“Diajak makan, malah mandangin gue. Ngeliatnya gitu banget lagi. Kayak ada yang mau loe omongin” katanya sok tau.

“Sok tau ah, udah dilanjut aja makannya..” kata Decha beralasan dan segera memulai makan makanan yang dipesannya tadi.

“Hmm malu sendiri kan? Kalo bukan mau ngomong sesuatu, ngapain juga ngeliatin gue?” tanya Doni lagi sambil senyam-senyum sendiri.

“GR banget sih loe. Gue cuma mau ngomong kalo gue NGGA MAU JATUH CINTA LAGI SAMA LOE!” lanjutnya dalam hati.

“Udah kenyang?” tanya Doni sebelum memanggil waitrees untuk meminta billnya.

Decha menganggukkan kepalanya kemudian berterimakasih atas dinnernya malam ini. “Thanks ya..” singkatnya.

“Thanks juga loe udah mau gue ajak dinner. Jangan kapok ya..” ucapnya sembari memberikan senyum terbaiknya.

Dan Dechapun membalas ucapan Doni itu juga dengan senyuman yang menurutnya adalah senyum terbaiknya. Merekapun segera menuju tempat parkir. “Tunggu bentar ya..” ucap Decha sembari mengambil sarung tangan dalam tasnya.

“Wah loe tau aja deh gue kedinginan gini..” tanpa basa-basi Doni mengambil barang itu dari tangan Decha dan segera memakainya.

“Siapa juga yang siapin sarung tangan ini buat dia? Gue sengaja bawa, karena yakin bakal dingin banget udara malem ini..” kata Decha dalam hati. “Kok gitu sih, terus gue gimana?” tanyanya.

“Tangan loe masuk aja ni ke jaket gue” katanya santai sembari menunjukkan saku di jaketnya.

Perjalanan pulang sangat mereka nikmati. Sembari Doni terus menggas motornya, dengan tangan kirinya ia mengambil tangan Decha yang bersembunyi menahan dinginnya malam di belakang punggungnya, lalu menarik tangan itu untuk masuk ke dalam saku jaket yang dipakainya.

“Dingin ya?” singkatnya. “Thanks banget ya udah mau keluar bareng..” lanjutnya lagi. Karena Decha tidak juga menjawab pertanyaannya, Doni sedikit menoleh ke belakang, ke arah Decha. “Minggu depan, kita keluar lagi ya?” tanyanya berharap kali ini Decha mau menjawab pertanyaannya.

“Wadduuh, mau ngga ya?” tanyanya dalam hati. “Kalo nerima ajakan dia, takutnya nanti gue jatuh cinta lagi sama cowok ini. Tapi kalo gue nolak ajakan dia, takutnya dia kecewa, terus ngga bakal hubungin gue lagi. Duuuh egois banget sih gue ini!” lanjutnya sambil terus berpikir ia atau tidak sama sekali.

“Keberatan ya, Dech..” tanya Doni masih penasaran.

Lagi-lagi, Decha hanya berkata dalam hati “Don.. gue sebenernya sama sekali ngga keberatan. Tapi kalo aja loe tau yang sebenernya gue rasain, yang gue takutin, loe pasti ngerti, Don..”

“Ya udah ngga apa-apa kok kalo loe ngga mau...” ucap Doni seperti berhenti berharap.

“Emmmh.. Emangnya loe mau ngajak gue pergi kemana?” tanya Decha berharap Doni tidak kecewa karena sikap diamnya tadi.

“Ke tempat yang sejuk, cuci mata lah ceritanya..” jawabnya singkat.

“Yang sejuk? Di Bandung mana lagi sih tempat sejuk? Lembang? Dago? Ahh bosen!! Tapi ngga apa-apa lah kalo sama Doni!” ucapnya dalam hati lagi sembari tersenyum kecil.

“Penasaran ngga? Mau ya?” tanya Doni sembari menengok lagi ke belakang, ke arah Decha. “Minggu depan gue jemput loe lagi ya??” ucapnya lagi.

“Biar kita keep contact, mendingan nanti aja deh gue kabarinnya lewat telepon..” lanjut Decha dalam hati. “Nanti kita calling-callingan lagi aja ya” jawab Decha singkat.

“Sekali lagi, thanks ya. Sorry loe sampe rumahnya kemaleman..” kata Doni saat sampai tepat di depan rumah Decha.

Lagi-lagi Decha menganggukkan kepalanya, special plus senyuman dari bibir kecilnya Decha. “Nah loe, biar loe ngga bisa tidur mikirin seyuman gue semaleman, hahaha... GR amat si gue ini!” ucapnya dalam hati sembari memberikan lambaian tangan ketika Doni beranjak pergi dari hadapannya.

***


Satu minggu kemudian..

Tepat jam sebelas pagi, Doni sudah tiba di teras rumah Decha. Sedangkan cewek yang ditunggunya ini masih di kamarnya, masih bingung memilih baju yang akan dikenakannya. “Akhh, kayak jaman SMA aja sih pake bingung segala milih-milih baju!” pikirnya. “Gue bukan mau ngedate kok!” sambungnya sembari memakai pakaian simple pilihannya, kemudian menuju teras untuk menemui Doni.

“Hai.. Sorry banget, lama nunggu ya? Engga kan?” ucap Decha sembari senyam senyum kegirangan.

“Loe ceria banget hari ini? Seneng banget gue liatnya, semangat juga gue ngajak jalannya...” puji Doni pagi ini.

“Masa sih, pengaruh warna baju gue aja kali” jawab Decha sedikit tersipu. “Kita berangkat sekarang, atau loe mau gue buatin minum dulu?” tanya Decha yang sebenarnya basa-basi.

“Ngga usah, nanti aja dijalan..” jawabnya yang kemudian menaikki motornya. “Ada yang ketinggalan, jaket, sarung tangan?” tanya Doni sebelum menggas motornya.

Decha hanya menggelengkan kepala yang berarti meyakinkan Doni bahwa semuanya sudah siap.

“Hari ini bakal nyenengin kayak minggu kemarin ngga ya? Gue harep gitu sih..” harap Decha. “Tapi kok gue ngga diajak ngobrol gini sih? Nanya apaan ya? Nanya kerjaan aja kali ya..” tanyanya dalam hati, ia ingin membuka perbincangan. “Loe tuh sekarang kerja dimana? Hari kerja kok ngga masuk sih?” tanya Decha di seperempat perjalanan sembari menempelkan dagunya ke bahu Doni.

“Libur special aja..” jawabnya singkat.

“Hmm jangan-jangan ngeliburin diri nih.. Ya kan?” Decha mulai memberanikan diri menggoda Doni.

“Kalo ia kenapa? Ngeliburin diri buat loe kok..” singkatnya lagi.

“Hmmm bisa aja, lagi-lagi bikin GR gue. Nanya apa lagi ya?” ucapnya masih dalam hati. “Sebenernya kita mau kemana sih?” tanya Decha penasaran, karena perjalanannya tidak menuju Lembang ataupun Dago seperti yang dibayangkannya.

“Puncak..” lagi-lagi jawab Doni singkat. Jawaban itu ia lontarkan bersamaan dengan diambilnya lagi tangan Decha dan menariknya untuk dimasukkan ke dalam saku jaketnya, seperti yang ia lakukan di perjalanan sepulang dinner satu minggu yang lalu.

Decha kemudian terdiam sesaat, dan bertanya lagi menghilangkan nervousnya, “Puncak apa, yang dimana maksud kamu? Eh maksud gue tu, ya maksud loe puncak yang dimana?” tanyanya sedikit ribet.

“Ya puncak lah, masa loe ngga tau? Di sana ada satu tempat yang pasti loe bakal suka dan ketagihan terus pengen kesana lagi..” jelas Doni sembari tangan kirinya ikut masuk ke dalam saku jaketnya, pelan-pelan ia juga mulai mengelus tangan Decha. “Liat aja nanti ya..” lanjutnya lagi.

Perjalanan memang panjang, tapi tidak terasa akhirnya mereka sudah sampai di tempat yang dimaksud Doni. Benar saja, tempatnya asik, sejuk dan terlihat pemandangan yang indah.

“Gimana? Loe setuju kan tempat ini keren banget?” ucap Doni sembari melepaskan jaketnya. “Buat gue, ini bukit terindah yang pernah gue kunjungin” lanjutnya lagi.

Decha sedari tadi masih terpesona melihat pemandangan di depan matanya, ia sangat menikmati pemandangan dari atas bukit ini. Mereka duduk bersebelahan di atas rerumputan dan terdiam sejenak.

“Dech..” ucap Doni ragu untuk membicarakannya sekarang.

“Kenapa?” Decha terdiam lagi, mengalihkan pandangannya pada pemandangan lainnya.

“Dech, gue..” Doni masih juga ragu. “Loe tau ngga, ini tu namanya Bukit Kupu..” ucapnya mengalihkan pembicaraan.

“Serius? Di Bandung bisa liat bintang di Bukit Bintang, kalau di sini bisa liat kupu-kupu dong?” tanya Decha sok tahu.

“Emang iya.. Setiap jam empat sore, gerombolan kupu-kupu yang entah darimana datengnya, ke bukit ini untuk ngisep madu-madu yang ada di bunga-bunga sebelah situ.” jelas Doni sambil menunjuk tempat bunga-bungaan yang tidak jauh dari tempat mereka saat ini. “Percaya ngga?” tanya Doni meyakinkan.

“Kalau gitu, kita disini sampe jam empat sore ya..” pinta Decha.

“Jangankan sampe sore, sampe besok aja gue mau kok, bahkan bertahun-tahunpun gue mau nemenin loe..” ucap Doni membuat pipi Decha berubah warna.

“Bisa aja loe!” singkatnya sembari tersipu malu.

“Kalo loe senyum gitu, ngga nahan deh gue..” goda Doni menghangatkan suasana.

“Hmmm, gue tau nih. Kalo gue senyum kayak gini, loe ngga bisa tidur semaleman ya kayak seminggu yang lalu? Senyumnya sapa dulu..” ucap Decha narsis.

“Dech, boleh gue ngomong sesuatu?” Doni mulai memberanikan dirinya setelah cukup lama mereka saling terdiam.

Decha melihat ke arah Doni, sesaat mereka saling menatap. “Serius amat loe kayaknya” ucap Decha membuyarkan tatapan mereka.

“Gue ngajak loe kesini, bukan cuma sekedar ngajak jalan. Tapi..” Doni terdiam sejenak meyakinkan dirinya harus mengatakannya saat ini juga. “Gue emang mau ngomong sesuatu sama loe..” Doni berpindah duduk tepat di hadapan Decha. “Loe udah ada yang punya apa belum sih?” tanyanya gugup.

“Itu lagi?” singkat Decha sedikit sinis.

“Dech..” Doni memegang kedua tangan Decha. “Gue butuh jawaban loe itu!” lanjutnya.

“Tapi untuk apa?” tanya Decha sambil melepas sentuhan tangan Doni.

“Gue sayang loe!!” jawab Doni singkat.

“Apa?! Jadi ini jawabannya. Doni beneran punya perasaan juga ke gue?” ucap Decha dalam hatinya sambil terus menatap Doni.

Doni mencoba mengambil kembali kedua tangan Decha.

“Sejak kapan?” tanya Decha pelan, jantungnya berdebar kencang.

“Gue ngga peduli sejak kapan gue punya perasaan ini. Sejak kemarin, sebulan yang lalu, setahun yang lalu, atau bahkan lima tahun yang lalu, loe ngga perlu tau. Yang penting saat ini loe tau perasaan gue kayak gimana.” jelas Doni.

“Terlambat!!!” singkat Decha yang kemudian berdiri dari duduknya, berjalan menuju tempat beribu bunga yang tidak jauh dari tempatnya semula. Doni yang masih duduk terdiam, hanya menatap ke arah Decha. “Kemana aja loe dari dulu, hah?” teriak Decha dari tempat itu. “Kenapa baru sekarang loe dateng ke gue?” lanjutnya sembari menghapus air mata yang sedikit demi sedikit menetes di pipinya. “Kenapa??” lanjutnya lagi.

(Kemana kau selama ini bidadari yang ku nanti? Kenapa baru sekarang kita dipertemukan? Sesal tak akan ada arti, karena semua telah terjadi. Kini kau telah menjalani sisa hidup dengannya. Mungkin salahku melewatkanmu, tak mencarimu sepenuh hati, maafkan aku! Kesalahanku melewatkanmu, hingga kau kini dengan yang lain, maafkan aku! Jika berulang kembali, kau tak akan terlewati, segenap hati kucari di mana kau berada : Yang Terlewatkan by Sheila On 7)

Doni berlari menghampiri Decha dan menghapus airmata yang membasahi pipinya. “Kalo gue tau loe bakal sedih gini, gue bakal pendem aja perasaan gue ini selamanya..” lirihnya sembari memegangi bahu Decha. “Gue ngga mentingin perasaan gue, kok. Dari dulu gue cuma mau liat loe seneng. Tapi kalo gini jadinya, maafin gue, Dech..” ucap Doni menyesali kejujurannya.

“Gue ngga masalah loe ngomong jujur kayak gini, karena emang ini yang gue tunggu dari loe sejak dulu..” jawab Decha lirih. ”Yang bikin gue nangis, cuma masalah waktu aja, kenapa semuanya terlambat kayak gini..” lanjutnya pelan.

“Dari dulu gue selalu ngorbanin perasaan gue. Semenjak loe jadian sama sahabat gue, perasaan gue juga mulai muncul bersamaan..” jelasnya. “Gue ngga mungkin ngambil kesempatan sedikitpun untuk deketin loe, demi sahabat gue. Karena sedikit aja gue berani deketin loe, gue TERLALU TAKUT, gue ngga mungkin ngerebut loe!” Doni mengambil lagi kedua tangan Decha. “Tapi yang loe maksud terlambat itu apa?!” tanyanya penasaran. “Bukannya loe sama dia udah pisah cukup lama kan?” lanjutnya lagi.

“Loe liat ini!” ucap Decha sembari menunjukkan cincin di jari manis tangan kirinya.

“Masih di tangan kiri kan?” tanyanya. “Masih ada kesempatan kan untuk gue milikin loe?” lanjutnya berharap. “Gue ngga maksud ngerebut loe dari tunangan loe yang entah siapa. Gue sempet nahan perasaan gue bertahun-tahun dengan ngalah demi sahabat gue. Tapi kali ini gue NGGA MAU NGELEWATIN loe lagi, gue ngga mau jatuh di kesalahan yang sama…” jelasnya kemudian memeluk wanita dihadapannya ini. “Maafin gue terlambat nyari loe..” lanjutnya sembari terus memeluk Decha.

Sekelompok kupu-kupu pun datang menghampiri bunga-bunga disekitar mereka. “Mereka jadi saksi kita…” ucap Doni yang kali ini tersenyum bahagia. Ia yakin kali ini tidak akan kehilangan wanitanya lagi.

(Bersamamu yang ku mau, namun kenyataannya tak sejalan. Tuhan bila masih ku diberi kesempatan, ijinkan aku untuk mencintanya. Namun bila waktuku telah habis dengannya, biar cinta hidup sekali ini saja : Sekali Ini Saja by Glenn Friedly)


PUTRI HANDAYANI

Valentine Ini , Kita Udahan Yaa (cerpen)

Valentine Ini, Kita Udahan Yaa

Sore ini sepulang les tambahan, seperti biasanya aku mampir ke rumah Vivi. Itupun karena Vivi yang memaksaku agar aku menemaninya. Dani, cowoknya akan datang ke rumahnya lagi sore ini. Jadi, supaya orangtuanya tidak marah dan curiga, aku harus rela menemani sahabatku ini.

“Bie, ayo dong temenin di ruang tamu!” pinta Vivi.

“Ngapain juga loe diem di kamar gue gini? Basi banget sih..” lanjutnya.

“Bentar lagi ya, tanggung nih! Gue lagi sms-an sama..”

“Indra?! Orangnya ada di ruang tamu tuh!” potong Vivi.

“Hah? Yang bener loe!” kataku tidak percaya bahwa ternyata Indra yang sedari tadi sms-an sama aku, ternyata sudah ada di ruang tamu.

“Udah deh, Bie.. Cepetan, bengong aja sih!” paksa Vivi sembari menggandeng tanganku menuju ruang tamu.

“Indra! Apaan sih??” ucapku manja waktu menghampirinya di ruang tamu.

“Keluar bentar yuk!” ajak Indra sembari mengedipkan sebelah matanya padaku sebagai tanda supaya aku mengerti maksudnya. Apalagi kalau bukan maksud membiarkan sahabat kita itu bebas berduaan.

“Oh, ia ia ia gue ngerti!” kataku sambil berjalan di belakang Indra.

Jujur, Indra memang menarik! Selama aku kenal dia, aku suka pribadinya. Setiap dia mengirimkan pesan singkat yang berisi berbagai puisi cinta sebagai ungkapan perasaannya, aku bisa tersenyum membacanya. Dan hari ini, aku benar-benar yakin akan perasaannya.

“Bie, loe beneran udah putus kan?” tanyanya ketika aku baru membuka bungkus ice cream.

“Udah..” jawabku singkat. Aku sempat terhenti menikmati ice cream yang dibelikannya karena pertanyaannya yang membuatku sedikit aneh.

“Berarti, ada kesempatan dong buat aku..” lanjut Indra sembari menikmati ice creamnya. “Kamu tau ngga sih kalo aku punya feeling ke kamu, Bie..” sambungnya lagi.

“Thanks..” singkatku sembari duduk di kursi teras rumah Vivi.

“Kok cuma itu jawaban kamu? Belum mau pacaran lagi?” selidiknya. “Masih pengen nikmatin kesendirian kamu? Bentar lagi valentine loh..” lanjutnya sembari ikut duduk disebelahku.

“Valentine?? Terus kenapa?” singkatku lagi. “Buat gue valentine ngga penting kok! Gue ngga harus ngerayain sama cowok gue. Kasih sayang itu bisa ditunjukkin kapanpun, ngga harus tanggal 14 Februari aja!” jelasku sembari menatap ke arahnya. “Gue ngga kayak kebanyakan cewek lain yang harus di rayain spesial gimana gitu!!” lanjutku lagi.

“Aku ngga mau kehilangan kesempatan buat dapetin hati kamu” singkatnya. “Bisa aja kan di hari valentine nanti ada cowok yang selama ini suka sama kamu, terus nyatain itu di hari valentine nanti?” tanyanya ketakutan.

“Dra.. Kok loe ngomongnya jadi aku-kamu gini sih? Kaku banget tau ngga?” ucapku merasa aneh.

“Okey kalo loe maunya gitu.. Gue ngerti maksud loe. Berarti puisi-puisi yang gue kirim lewat sms beberapa hari kemarin itu semuanya..”

“Loe sendiri yang buat puisi itu?” ucapku memotong pembicaraannya. Aku teringat cerita Vivi tentang cowok ini. Dia menaruh perasaan yang lebih untukku, dia berubah menjadi cowok romantis yang sok puitis hanya untuk aku. Vivi ingin sekali aku menerima cinta Indra supaya kita bisa double date.

“Ngga suka ya? Gue emang ngga pinter buat kayak gitu, tiba-tiba aja pengen kirim buat loe” sambungnya.

“Bagus kok.. Kenapa dikirimin ke gue? Ngga nyoba dibuat lagu untuk tambahan koleksi lagu di band loe? Atau di kirim ke majalah, kali???” saranku.

“Semua itu ungkapan perasaan gue buat loe, Bie..” lirihnya.

“Jadi, apa yang Vivi bilang itu bener?” ucapku sambil beranjak dari kursi menuju kolam ikan di samping teras.

“Menurut loe, gue bercanda?” ucapnya sambil menghampiriku.

“Kenapa loe bilang sama Vivi? Ngga langsung bilang ke gue aja?” tanyaku.

“Gue cari info lewat Vivi tentang loe. Loe lagi pacaran sama siapa? Loe lagi berharap sama siapa? Semuanya gue tau dari Vivi” jelasnya. “Gue tau ini saatnya gue buat nyatain semua perasaan gue” lanjutnya lagi. “Jadi, loe mau ngga jadi little princes gue?” sambungnya.

“Ia deh..” singkatku setelah beberapa saat terdiam.

“Ia gimana, Bie?” tanyanya penasaran.

“Gue mau jadi cewek loe..” jawabku yang diiringi senyuman bahagianya. Ia lalu memelukku dan mengucapkan rasa terimakasihnya karena aku bersedia menjadi little princesnya.

Mungkin ini hari bahagia untuk Indra, dan seharusnya juga itu yang aku rasakan. Tapi kenyataanya, aku belum bisa membalas perasaannya. Mungkin bisa dibilang aku hanya iba dan ingin mencoba menjalani terlebih dahulu. Vivipun senang melihat aku menerima cintanya Indra.


^^^^^

Dua minggu sudah aku mengisi hari-hari lelaki ini. Posisiku adalah ceweknya Indra yang seharusnya dengan tulus membalas perasaannya. “Aku merasa ngga pantes ada di posisi ini! Masih banyak mungkin yang mengharapkan seorang Indra” kataku dalam hati saat diperjalanan menuju sekolah pagi ini. “Seorang cowok yang baik, ngga macem-macem, punya tampang yang mendukung, romantis pula! Sayang banget ya Indra dapet seorang aku yang belum bisa bales semuanya” lanjutku lagi.

“Vi, Indra ada kabar ngga?” tanyaku pagi ini di kelas.

“Kabar gimana? Emang Indra kenapa?” lanjut Vivi sembari menyalin PRku ke dalam bukunya.

“Biasanya bangun tidur dia pasti sms gue. Ngucapin selamet pagi atau ingetin sarapan plus ingetin bawa PR gue! Tapi hari ini sama sekali ngga ada! Missedcall aja engga!” ceritaku panik.

“Mmh, dasar loe! Dia keseringan sms ngeluh, dia ngga sms ngeluh juga! Abis pulsa kali..” lanjut Vivi.

“Gue juga mikir gitu, makanya tadi sengaja gue transfer pulsa ke dia. Tapi tetep aja ngga ada kabar. Gue telfon juga ngga diangkat! Coba deh loe yang sms, Vi.. Mungkin aja di bales” saranku masih yang panik.

“Gue ngga ada pulsa ah! Buat sms-an sama Dani!” sambung Vivi.

“Pelit banget sih loe sama gue aja!” ucapku sedikit kesal karena hari ini ngga biasanya Vivi sejudes ini!

“Kemana sih kamu, Dra?? Bikin panik aja deh!” tanyaku pada diri sendiri, sedikit kesal sambil sekali lagi mencoba menghubunginya.

Akupun kehilangan konsentrasi untuk mendenger penjelasan guru saat pelajaran kimia dimulai pagi ini. Tiga jam pelajaran yang sia-sia.

“Vi, kayaknya pulang skolah gue harus ke rumah loe ah! Loe wajib terangin ulang ke gue pelajaran barusan! Pliiss..” pintaku membujuknya.

“Gabbie.. Gabbie..” ucapnya singkat sambil sedikit menertawakanku.

“Ke WC yuk, gue harus cuci muka! Bisa-bisa pelajaran berikutnya ngga masuk lagi di memori gue!” ajakku.

“Walopun loe cuci muka kek, minum kopi kek, kalo inget Indra mulu sih ngga akan bisa konsen, Bie..” goda Vivi ketika kita menuju WC sekolah.

“Gue kenapa sih, Vi??” tanyaku bingung.

“Ia! Loe aneh banget deh hari ini! Ngga biasanya Indra bikin loe panik gini!” sekali lagi Vivi hanya tertawa melihat tingkahku. Setelah mencuci mukaku dengan sedikit air, aku hanya mengangkat bahu dan menggelengkan kepala. “Masuk kelas yuk, ah! Udah dong, sobat gue tersayang.. Nanti pasti ketemu di rumah gue, kok! Kalo Dani dateng pasti Indra nemenin juga kok!” lanjut Vivi.

Siang ini, sewaktu Vivi sedang mengulang menjelaskan pelajaran kimia, bell rumahnya berbunyi. Dan ternyata dua sosok cowok tampan muncul. Aku cukup lega melihat Indra baik-baik saja!

“Ngapain tadi pagi transfer pulsa, Bie?” tanya Indra membuka perbincangan.

“Hah? Mmmhh, engga kok! Itu salah kirim!” ucapku beralasan. “Vivi minta aku transfer pulsa, soalnya mendadak mau sms Dani gitu. Pulsa Vivi tiba-tiba abis waktu selesai telfon aku nanyain jadwal pelajaran hari ini.. Tapi malah salah kirim” jelasku lagi. “Ia kan, Vi??” tanyaku sambil menginjak kakinya yang berada di sebelahku berharap ia mengerti maksudku.

“Aduh..” ucapnya sedikit kesakitan. “Ia ia ia.. Bener lagi, Dra..” lanjutnya. “Jadwal pelajaran gue tiba-tiba ngga tau kemana..” sambungnya lagi dan sedikit tertawa.

Akhirnya kepanikanku berakhir setelah Chandra menemuiku siang tadi. “Kenapa sih aku bisa sepanik itu? Sampai-sampai aku ngga konsen belajar hanya karena Indra ngga seperti biasanya?” ucapku masih melanjutkan mengerjakan PRku. “Apa mungkin ini pertanda aku kangen sifatnya yang kemarin-kemarin? Nampaknya aku ngga biasa tanpa perhatiannya!” lanjutku lagi. “Aku ingin banget bilang sama dia kalo aku juga sayang sama dia. Tapi kapan aku bisa yakin untuk ngucapin itu??” sambungku dalam hati.

^^^^^

“Idiih.. seneng banget nih tampang sobat gue. Pagi-pagi gini udah senyam-senyum sendiri. Kenapa? Indra ngga kayak kemarin lagi, ya?” ucap Vivi sedikit menggodaku.

“Hah? Mmm.. Ngga gitu juga! Eh, maksud gue.. Maksud gue ya gitu. Chandra normal lagi kok, care lagi sama gue...” ucapku menyembunyikan kebahagiaanku ini.

“Sebenernya gue udah tau dari kemarin! Itu akal-akalannya dia aja, gue udah di callingin sama dia..” jelas Vivi.

“Vivi.. apaan sih loe?!” kataku sambil mencubit pipi chubbynya.

“Sorry ya. Indra tuh pengen tau reaksi loe kalo sehari aja dia ngga kasih kabar kayak biasanya. Dia seneng banget waktu gue cerita ternyata loe panik abis” lanjut Vivi sembari menikmati roti sarapannya.

“Hah? Loe bilang sama dia kalo gue panik abis? Aduh, Vi..”

“Kenapa sih? Loe ngga usah munafik deh, Bie..” ucap sahabatku itu.

“Agh, terserah loe deh!” kataku sedikit marah.

“Jangan manyun gitu dong.. Eh, pinjem handphone loe dong” pinta Vivi.

“Nih!!” kataku sambil menyodorkan hape kesayanganku itu, masih dengan bibir manyunku.

“Eh, Dani sms loe ya.. Ini Dani yayang gue kan?” tanya Vivi penasaran. “Nanyain gue ngga? Gue liat ya..” pintanya yang langsung membaca pesan dari lelaki tercintanya itu.

“Aduh.. Mungkin sms Dani semalem ada yang kelewat aku hapus. Gawat nih..” ucapku dalam hati.

“Hihihi..” Vivi geli sendiri baca smsnya. “Ngomongin gue, Bie.. Cuma sekali sms-an? Ngomongin apa lagi tentang gue?” lanjutnya.

“Ugh, untung sms yang kelewat aku hapus itu cuma sms pertamanya yang isinya nanya kesukaan Vivi!” ucapku dalam hati.

Semalam aku dan Dani saling mengirim pesan singkat, awalnya memang menanyakan Vivi. Dia berencana memberikan sesuatu pada Vivi di hari valentine nanti. Pagi ini aku masih senyum-senyum sendiri, sebenarnya karena sms-an semalam bersama Dani.

“Mungkin gue ini sahabat yang paling jahat, bahagia di atas penderitaan sahabat gue sendiri. Tapi maafin gue, Vi. Gue ngga maksud ngerebut seseorang yang sangat loe cintai. Gue ngga pernah punya rencana untuk menaruh hati untuk cowok sahabat gue sendiri..” lirihku masih dalam hati.

^^^^^

Hari demi hari terus berganti. Tidak terasa lusa sudah masuk tanggal 14 Februari, dimana orang banyak yang menganggap hari kasih sayang. Tapi aku belum juga merasa bisa membalas cintanya Indra. Sepulang sekolah hari ini, Vivi mengajakku ke sebuah mall untuk mencari barang sebagai tanda sayangnya pada Dani di hari valentine nanti..

“Gue ambil ini aja deh! Menurut loe gimana?” ucapnya meminta saranku.

“Mmmh.. terserah loe, Vi..” ucapku singkat.

“Loe sakit ya? Ngga semangat banget sih!” tanya Vivi. “Biasanya kalo ke mall gini, loe semangat banget! Foto lah, makan lah, hunting aksesoris lah, apalagi sekarang menjelang valentine suasana mall ini juga all about pink warna yang loe banget! Kenapa loe?” lanjutnya lagi.

“Udah deh, loe cepetan ke kasir sana! Gue tunggu di sini ya..” ucapku beralasan.

“Loh, loe ngga nyari buat Indra?” tanya Vivi.

“Hah?? Buat Indra?” ucapku spontan.

“Ia lah.. Buat cowok loe!” lanjutnya. “Ngga bawa duit? Mau gue anter ke ATM dulu? Atau pake duit gue dulu ya?” sambungnya lagi.

“Ngga usah, Vi.. Gue ambil ini aja deh!” kataku tanpa pikir panjang mengambil barang di rak ujung stand ini.

“Yakin loe ambil ini?” tanya Vivi nampak kebingungan dengan sikapku kali ini. Aku hanya menganggukan kepala dan menyodorkan dua lembar uang seratus ribu. “Langsung di bungkus?” lanjut Vivi. Lagi-lagi aku hanya menganggukan kepalaku. “Pake pita? Warna apa? Bungkus kadonya mau yang motif apa?” tanya Vivi sekali lagi.

“Terserah loe. Loe aja yang pilih, gue percaya pasti pilihan loe disukain Indra juga kok!” kali ini aku menjawab pertanyaan Vivi.

“Loe kenapa sih, Bie..” tanya Vivi di perjalanan pulang.

“Gue langsung balik ya, Vi.. Mobil gue mau dipinjem si abang!” ucapku beralasan.

“Ngga mampir ke rumah gue? Bukannya ada janji sama Indra di rumah gue?”lanjut Vivi yang masih kebingungan dengan sikapku.

“Udah gue batalin, Indra ngerti banget kok. Masih ada hari besok katanya..” jelasku. “Ngga apa-apa yah hari ini gue ngga temenin loe sama Dani?” tanyaku sembari terus menggas mobil.

“Ia deh, lagian muka loe pucet banget! Loe istirahat aja ya. Gue ngga mau besok loe ngga masuk sekolah” ucap Vivi. “Mmmh, gue turun depan komplek aja deh. Biar gue naik ojeg sekali-kali..” lanjutnya lagi.

“Bener nih ngga apa-apa?” tanyaku sekali lagi. “Thanks ya, Vi..” lanjutku sesudah cipika-cipiki mengakhiri pertemuan hari ini.

Malem ini, aku terus memandangi kado yang telah terbungkus indah untuk Indra. Sebuah bantal hati berwarna pink, bertuliskan I LOVE YOU. “Aku bohongin hatiku sendiri! Aku ngga cinta sama dia, sedikitpun engga!” ucapku sembari masih menatap kado itu. “Aku ngga pernah cemburu denger cerita Indra deket sama cewek lain! Sedangkan Indra bener-bener menginginkan aku jadi cewek terakhir di hidupnya” lanjutku lagi, kali ini di dalam hatiku.

“Dering ponsel membuyarkan lamunanku. Indra hanya ingin mengucapkan selamat tidur.

“Makasih, selamet tidur juga ya.. Sampe ketemu, Dra..” lirihku.

^^^^^

“Besok pake baju apa ya, Bie?” tanya Vivi sewaktu istirahat sembari terus mengunyah keripik pedas andalan kita di koridor depan kelas.

“Ngga usah terlalu resmi lah, Vi.. Biasa aja! Besok pake mobil siapa jadinya?” tanyaku.

“Mobil Indra kan?” sambung Vivi. “Loe mau dandan gimana?” lanjutnya lagi.

“Yang wajar aja kali dandannya.. Bajunya, gue matchingin aja sama Indra..” sambungku memberi saran.

“Bie, kok gue ngerasa Dani beda ya ke gue? Kayaknya dia punya CIL deh..” ucapnya.

“CIL? Singkatan apa lagi tuh?” tanyaku penasaran.

“Cewek idaman lain, Bie!!” sambungnya.

“Ooo.. gue pikir apa. Loe pake singkat-singkat segala!” lanjutku sedikit tersindir. “Idaman lain? Maksud loe? Kenapa loe bisa bilang gitu? Bukannya selama ini loe yakin kalo dia cinta banget sama loe? Bukannya..”

“Sikapnya aneh aja.. Tapi udah lah. Gue aja yang netting, tapi wajar kan, Bie..” tanyanya lagi.

“Negatif thingking wajar sih..” ucapku tidak tahu lagi harus bicara apa.

“Udah lah, yang pasti besok bakal jadi hari indah buat gue, buat Dani, Indra, dan loe juga kan?” lanjutnya berusaha berpikir positif.

“Mmhh.. ia semoga aja gitu!” singkatku.

“Kok semoga sih..” sambungnya. “Jangan lupa besok bawa kadonya ya.. Eh ia, gue jadi inget cerita Indra..” ucapnya lagi.

“Cerita apa?” tanyaku penasaran.

“Loe sayang ngga sih sama dia, Bie?” tanyanya penasaran. “Dia bilang ngga pernah denger loe bilang sayang sama dia. Loe ngga mainin dia kan? Dia itu sahabatnya cowok gue dan berarti sahabat gue juga. Gue ngga mau loe mainin dia walaupun loe juga sahabat gue. Lebih baik loe ngga jadian kalo loe ngga ada feeling, Bie..” jelasnya yang kemudian membuatku terdiam.

“Aduh, gue kepedesan nih. Beli minum yuk, minum gue abis nih..” kataku sembari berjalan ke kantin untuk mengalihkan pembicaraan ini. “Aku ngga mungkin jujur sama Vivi tentang semua kebohongan ini. Bisa jadi hubungannya yang masih baik sama Dani bisa berantakan. Dan juga persahabatan kita berdua bisa berantakan gara-gara masalah cowok. Aku ngga pernah mau hal itu terjadi!” ucapku dalam hati. “Cowok banyak lah yang bisa aku dapet, yang lebih baik malah. Tapi sahabat seperti dia hanya satu yang aku punya. Aku lebih sayang sama persahabatan kita, aku ngga mau kehilangan sahabat terbaikku yang sudah aku anggep seperti keluarga sendiri” lanjutku masih dalam hati sembari menatap Vivi, sahabatku.

^^^^^

Tepat jam tujuh malam ini, Indra menjemputku ke rumah. Mama sudah mempersilahkan Indra untuk masuk ke dalam menungguku selesai berdandan. Aku ingin tampil secantik mungkin malam ini. Tapi ternyata Chandra malah berpenampilan casual. “Tempat dinnernya pasti romantis banget dan sesuai dengan gaun yang aku pake. Harusnya Indra pake jas atau paling engga kemeja lah” ucapku dalam hati.

“Kamu mau aku ganti baju aja, supaya matching sama kamu, Dra? Tunggu bentar yah..” ucapku yang kemudian beranjak menuju kamar.

“Ngga usah, Bie..” ucapnya sembari memegang tanganku, melarangku untuk mengganti dress ini. “Kamu cantik banget malem ini, aku suka..” jawabnya. “Berangkat sekarang yuk!” ajaknya sembari terus memegang tanganku.

Aku hanya menganggukan kepalaku, sedikit malu karena dipujinya.

“Silahkan masuk, puteriku..” katanya sambil membukakan pintu mobil untukku. “Pasti kamu bawa kado buat aku ya. Aku juga punya sesuatu buat kamu. Tapi nanti aja ya selesai kita makan malem. Sekarang, kita jemput Dani aja. Vivi udah ada di rumah Dani kok..” jelasnya sembari terus menyetir mobilnya menuju rumah Dani.

Ketika kami sampai di rumah Dani, rasanya aku ingin tertawa sendiri melihat penampilan Vivi dan Dani yang juga ternyata tidak matching.

“Gue pulang dulu, ah. Gue pengen ganti baju nih..” ucap Vivi yang tidak nyaman dengan baju yang dipakainya. “Atau kamu aja deh yang ganti baju, biar kita matching..” bujuk Vivi pada cowoknya.

“Ngga usah lah. Buang-buang waktu aja sih.. Langsung pergi aja yuk! Santai aja lagi, Say. Walau ngga matching dari penampilan, tapi kan acaranya harus tetep sesuai rencana. Nanti kalo pulang kemaleman, aku juga yang kena omel papa kamu..” saran Dani menenangkan Vivi.

“Tapi kok kamu bisa matching sama Gabbie sih? Gabbie pake gaun, kamu pake jas. Aku sama Chandra malah santai banget.. Kalian janjian ya..” selidik Vivi.

“Loe gitu banget sih, Vi.. Kebetulan aja kali..” ucapku membela diri.

Begitu sampai di tempat candle light dinner, ternyata banyak pasangan yang merayakan valentine ini. Nuansa pink yang lembut nampak indah banget di mataku. Dani dan Vivi berada di sebelah mejaku. Aku sesekali menatap ke arah Dani, begitupun Dani yang sesekali menatap ke arahku. “Andai aja Dani yang jalan berdampingan sama aku, andai aja Dani yang jadi teman dinner aku, dan andai aja Dani yang satu meja sama aku, mungkin suasana valentine ini bakal kerasa banget..” ucapku dalam hati.

“Udah jam sepuluh nih. Kita pulang yuk, Dra.. Aku takut di marahin papa.. Lagian besok harus sekolah pagi kan..” ajakku pada Indra yang masih ingin menikmati malam valentinenya bersamaku.

Setelah mengantarkan Dani ke rumah Vivi, Indrapun kembali menggas mobilnya menuju rumahku. Di depan gerbang rumahku, masih di dalam mobilnya, ia mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin kudengar.

“Aku sayang banget sama kamu, Gabbie..” ucapya manis. “Makasih ya kamu udah mau jadi bagian dari hidup aku..” lanjutnya sembari mengelus pipiku.

“Sama-sama, Dra..” ucapku sembari tersenyum. “Makasih ya dinnernya..” lanjutku lagi sembari melepaskan tangannya yang masih mengelus pipi ini.

“Ini buat kamu..” sambungnya sambil memberiku sebuah kado raksasa yang sedari tadi ia simpan di jok paling belakang. “Standar sih cowok ngasih ceweknya kado itu. Tapi mudah-mudahan kamu bisa selalu inget aku..” harapnya.

“Makasih, tapi aku cuma punya ini buat kamu!” lanjutku sembari memberikan bingkisan kecil yang telah kubawa. “Aku ngga kepikiran mau beli apa yang pantes untuk..”

“Kamu udah ada di samping aku hari ini dan tampil cantik kayak gini aja udah jadi kejutan buat aku, kok.. Serius!” ucapnya memotong pembicaraanku. “Cewek aku cantik banget sih..” pujinya lagi dan diiringi senyumanku. “Tapi…” ucapnya berhenti sejenak. “Aku ngga pernah tau kamu sayang sama aku atau ngga..” lanjutnya berharap aku menjawab pertanyaannya. “Aku sengaja ngga pernah tanya hal itu, karena aku mau someday kamu yang inisiatif ngomong itu sendiri.. Sampai kapan aku harus nunggu kalimat itu, Bie?” sambungnya sembari terus menatapku.

“Dra, thanks banget ya selama ini kamu udah nyayangin aku. Tapi..”

“Ini satu lagi buat kamu..” ucapnya langsung memotong ucapanku sembari menunjukkan satu bingkisan kecil yang ia persembahkan untukku juga. “Aku mau kamu tau kalo aku serius banget sama kamu..” lanjutnya.

“Indra..” ucapku lirih.

“Kamu bersedia kan pake cincin ini?” pintanya sembari membuka kotak yang masih ia pegang dan kemudian menunjukkan isinya padaku. “Mungkin harganya ngga terlalu tinggi, tapi aku niat banget, Bie..” lanjutnya.

“Aku ngga bisa, Dra..” singkatku sembari meletakkan bingkisan itu ke tangannya lagi. “Maafin aku..” lirihku merasa bersalah.

“Kenapa, Bie?” tanyanya kecewa.

“Aku ngga bisa jelasin apa-apa sama kamu..” ucapku yang kali ini diiringi tangisanku. “Yang jelas aku mau ngucapin makasih, makasih buat semuanya yang udah kamu kasih buat aku. Pengorbanan kamu, waktu kamu, pulsa kamu buat nelfonin aku, kata-kata manis kamu, semuanya aku hargain banget!” lanjutku terbata-bata. “Aku ngga bisa pake cincin itu, aku rasa masih ada seseorang yang lebih berhak dapetin kamu. Bukan aku, Dra..” ucapku lagi berusaha membuatnya mengerti. “Valentine ini, kita udahan aja, yaah.. Selain ngga bisa pake cincin itu, aku juga ngga bisa lanjutin hubungan kita ini..” ucapku yang diiringi anggukan kepalanya, pertanda ia sangat mengerti kondisiku. Ia lalu memelukku sebagai tanda perpisahan dan rasa terimakasihnya.

“Aku selalu tunggu kamu, sampai kamu bisa buka mata dan hati kamu, sampai kamu bisa ngerasain apa yang aku rasain..” lirihnya sembari menghapus air mataku.

“Aku ngga bisa terus dalam keadaan ini! Aku ngga mau terus bohongin hati aku! Aku ngga sayang sama kamu, Dra! Lebih baik dari sekarang aku jujur sebelum semuanya terlambat. Maafin aku, Dra.. Ternyata aku bener-bener yakin kalo aku sayang sama sahabat kamu sendiri, cowok sahabat aku juga” lanjutku dalam hati sembari menyaksikan mobilnya melaju dan menghilang dari pandanganku.







PUTRI HANDAYANI

LOST in JOGJA (cerpen)


LOST IN JOGJA
Pukul 04.50 WIB Tira terbangun dari tidurnya setelah kurang lebih tiga jam ia tertidur lelap. Masih dalam keadaan setengah sadar dan masih menahan rasa kantuknya, ia melihat jam ditangan kirinya, kemudian menikmati kembali pemandangan di perjalanannya yang pertama ini.

Tira sedang dalam perjalanan menuju Solo dengan kereta api, ia hendak menyusul keempat sahabatnya yang sudah terlebih dahulu menuju kota itu. Namun setelah ia teringat pesan keempat sahabatnya bahwa ia akan sampai di stasiun pukul 04.30 WIB, sementara detik itu menunjukkan pukul 04.50 WIB, ia hanya bisa menelan ludah karena menyadari bahwa stasiun tujuannya sudah terlewati. Ia terlihat gugup sehingga seorang pria yang duduk di kursi sebelahnyapun memberanikan diri menyapanya.

“Maaf Mbak, ada masalah? Ada yang bisa saya bantu?” tanya seorang pria sekitar umur 25 tahunan dengan logat jawanya.

“Saya?” jawabnya pelan sambil menunjuk dirinya sendiri.

“Ia Mbaknya, kelihatannya bingung begitu..” jawabnya menebak-nebak. “Mbaknya mau kemana?” lanjutnya lagi.

“Di depan nanti stasiun apa ya, Mas?” tanyanya sembari menenangkan dirinya.

“Kurang lebih lima menit lagi, itu stasiun Jogja, Mbak” jawabnya pasti. “Mau ke Jogja juga ya, Mbak?” sambungnya.

“Mmmh.. iya..” ucapnya singkat.

Tira menarik nafas panjang, kemudian ia berpikir sejenak sembari menyandar kembali pada kursinya.

“Gimana ceritanya gue jadi nyasar di Jogja gini?!” tanyanya dalam hati. “Kalo udah nyampe stasiun nanti, apa yang mau gue lakuin coba? Ngga ada yang jemput, ngga ada tujuan. Arrghh gara-gara ketiduran nih!!” keluhnya lagi.

“Ra, kita semua udah nungguin loe dari setengah jam yang lalu, sementara kereta api yang loe tumpangin udah jalan lagi dari tadi. Tapi kita belum juga nemuin loe, loe dimana sih ?!” tanya Icha yang sudah menunggu di stasiun Solo untuk menjemput sahabatnya. “Di toilet karena loe nahan2 pipis, di tempat makan karena loe kelaperan, atau di tempat souvenir karena loe ngga tahan belanja?? Tapi kabarin kita dong say…” lanjutnya khawatir dengan keadaan Tira.

“Lima menit lagi loe telfon gue ya..” jawab Tira dengan singkatnya. Ia lalu menyimpan handphone dalam tas tangannya dan kemudian mengambil kopor merahnya untuk turun bersama penumpang lainnya di stasiun Jogjakarta. Sesaat Tira kebingungan, lalu ia duduk di dekat toko kue, seraya berpikir apa yang harus ia lakukan setelah sampai di kota yang sebenarnya bukan tujuan liburannya ini.

“Ra, kita kok ada feeling kalo loe punya kabar buruk sih?” tanya Icha saat menelepon Tira kembali.

“Loe jangan banyak omong deh, please tenangin gue! Gue nyasar tau ngga?!” jawabnya sembari kesal.

“Nyasar?!” jawab keempat sahabatnya kompak ketika mengetahui jawaban Tira dari speaker handphone milik Icha. “Dimana loe sekarang?” lanjut Icha ikut panik.

“Jogjakarta, masih di stasiun” singkatnya.

“Oke loe tenang dulu.. Sekarang loe mendingan cepet-cepet cari taksi, cari hotel, terus loe istirahat biar loe tenang dikit. Nanti siang gue telfon loe lagi ya” saran Icha menenangkan Tira. “Baik-baik loe disana” pesannya.

Kemudian Tira berjalan menuju pintu keluar stasiun Jogjakarta, yang kemudian disambut oleh riuhnya tukang becak dan taksi yang menawar-nawarkankan jasanya. Ia kebingungan dan menolak semua tawaran tukang becak dan taksi, kemudian ia berjalan sampai depan gerbang stasiun. Ia melihat di depan mata toko-toko yang masih tertutup rapat yang selama ini hanya ia lihat di televisi, majalah, ataupun internet. Ia kagum dan sudah terbayang akan berbelanja di tempat yang terkenal dengan nama Malioboro ini. Ya, ia masih terus berjalan menikmati udara subuh di kota ini. Namun lama kelamaan ia lelah juga berjalan kaki, ia lalu menghampiri becak-becak yang terparkir di depan toko-toko batik.

“Ayo Mbak becaknya, cari hotel bintang lima atau bintang tiga, lima ribu saja” tawar tukang becak yang terlihat renta tetapi semangat kerjanya terlihat tinggi.

“Mbaknya masuk becak duluan, biar kopornya saya yang angkut belakangan” lanjutnya.
Tira lalu duduk dan menikmati indahnya pengalaman ini, ia seakan lupa bahwa ia sebenarnya tidak punya tujuan disini.

“Mau di hotel apa, Mbak ? Sebelah kiri ini hotel Bintang tiga. Nanti kalau yang ini ngga cocok, masih ada di depan hotel bintang limanya” jelas bapak tukang becak.

“Saya ngga cari tempat yang mewah kok, Pak. Antar saya ke hotel yang biasa aja deh, Pak” jawab Tira.

“Siap, kalau begitu kita putar balik ya, Mbak..” lanjutnya sembari terus menggenjot becaknya.

“Terserah Bapak, tapi saya juga mau yang dekat Malioboro aja..” lanjut Tira.
Sembari memilih-memilih tempat penginapan, tiba-tiba Tira teringat seorang teman lamanya yang saat ini stay di kota ini, lebih tepat disebut cinta monyetnya.

“Babon!” ucap Tira sembari kegirangan. “Ya bener, gue harus hubungin dia sekarang juga” lanjutnya sembari mencari nama lelaki itu di daftar nomor telepon pada ponselnya dan kemudian menghubungi nomor itu. “Heuhh ga aktif!” ujarnya sedikit kesal. ”Apa dia ganti nomer? Tapi ga mungkin, dia pasti ngasih kabar kalo ganti nomer gitu. Belum bangun kali ya?” lanjutnya berusaha berpikir positif.

Akhirnya Tira menemukan tempat yang cocok suasananya dan juga cocok harganya. Lalu ia membayar becak dengan sedikit tambahan karena ia merasa iba dengan bapak tukang becaknya. Ia lalu masuk ke dalam hotel pilihannya dan membayar biaya penginapan untuk satu hari. Kemudian petugas hotel mengantar Tira ke kamar pilihannya. Tira lalu menjatuhkan tubuhnya ke ranjang untuk beristirahat sesaat. Tidak lama kemudian, Tira membuka gorden cokelat di sebelah ranjangnya. Ia tergiur pengunjung hotel yang sedang berenang di pagi hari ini.

“Seger juga kayaknya ya, ikutan ahh..” ucapnya seraya membuka kopor lalu mengganti pakaiannya dengan pakaian untuk renang. Namun sebelum beranjak dari kamarnya, sekali lagi ia menghubungi teman lamanya itu. “Hufft belum bangun juga ‘ni anak!” ucapnya kesal ketika temannya itu masih juga belum bisa dihubungi. “Hai Bab, Tira lagi di Jogja nih.. Bisa kesini kan, hotel Blue Safir, modern room 28? See you, Bab!” pesannya di mailbox sembari berharap temannya itu segera menghubunginya kembali. Tidak lupa, Tira menghubungi sahabat-sahabatnya yang berada di Solo. “Loe semua tenang aja, gue aman kok. Gue udah dapet hotelnya juga. Tapi please banget, kalo laki gue ngehubungin kalian, bilangnya gue ada sama loe semua yaa..” pintanya pada keempat sahabatnya itu.

Tanpa berlama-lama Tira langsung masuk ke dalam kolam renang, beraksi dengan gaya katak andalannya. Beberapa kali ia beristirahat di pinggir kolam sembari menertawakan pengunjung anak-anak kecil yang terlihat lucu. Jam menunjukkan pukul 08.45 WIB, Tira beraksi kembali dan berencana mengakhiri acara renangnya ini.

“Tira !!” teriak suara seorang lelaki dari atas kolam renang.

“Haii, Bab!” jawab Tira sembari melambaikan tangannya saat melihat sosok teman lamanya. Ia lalu berputar arah ingin segera menghampiri sosok lelaki itu. Namun ada sedikit kecelakaan yang terjadi ketika Tira akan berenang kembali menuju tempat temannya itu, kakinya terkena lantai kolam renang yang agak retak. “Aduhh .. Ya ampun… Bab!!! Tolongin.. Aduhh kaki gue !!!” ucapnya meringis kesakitan.

Dengan refleksnya, lelaki itu membuka sandal dan jaketnya, lalu kemudian masuk ke dalam kolam untuk membantu teman wanitanya yang terlihat kesakitan. Ia membopong Tira sampai ke atas kolam lalu melihat seberapa urgent luka di kaki Tira. Tanpa basa basi ia menggendong Tira menuju kamarnya.

“Jantung gue kok debarnya kenceng banget gini sih?” ucap Tira dalam hati ketika ia sedang berada di pangkuan cowok yang ia panggil Babon ini. “Darah.. darahnya banyak banget. Gimana nih kaki gue..” lanjutnya masih dalam pangkuan temannya itu, sembari meneteskan air mata.

“Ko bisa sampe gini sih, Ra?” ucapnya saat sampai di kamar Tira. ”Ngga hati-hati sih kamu!” lanjut cowok berbadan tinggi besar ini. “Aku tak telfon petugas informasinya dulu ya” sambungnya sembari mengangkat gagang telepon yang berada di sebelah ranjang.

Tira tidak berkata-kata, ia menahan sakit di kakinya sembari terus mencuri pandang pada lelaki yang bernama asli Bian itu. Tak lama petugas hotel datang mengantarkan kotak P3K, dan Bian segera mengobati luka di kaki Tira dengan obat merah dan juga balutan perban.

“Udah enakan?” tanya Bian sembari masih meniupi kaki Tira agar sakit yang dirasakannya sedikit berkurang.

“Thanks ya, Bab. Sorry belum apa-apa Tira udah ngerepotin kamu..” ucapnya lirih.

“Udah ngga usah ditiupin lagi, cukup kok” sambungnya sembari memberikan senyum
manisnya. “Baju celana kamu basah, ganti pake boxer Tira ya..” lanjutnya sembari mengambil celana boxer berukuran L, yang biasa ia pakai untuk tidur. “Bajunya gimana ya, Tira ngga ada baju yang ukuran “Babon” tuh..” lanjutnya lagi sedikit berjokes.

“Babon babon!! Udah deh itu tu panggilan jaman SD tau ngga, sekarang udah ngga berlaku lagi! Yang manggil kayak itu tinggal kamu aja!” jawab Bian juga diiringi senyumnya. “Udah soal baju biar aku pake jaket aja” lanjutnya.
Bianpun menuju kamar mandi untuk mengganti celananya. Sejenak mereka terdiam, tanpa sadar merekapun saling memandang satu sama lain.

“Kamu belum sarapan ya?” ucapnya mencairkan suasana.

“Ia, Tira laper nih, cari sarapan yuk di luar” ajak Tira bersemangat.

“Di luar? Ngga pesen di hotel aja? Kakimu itu lho” ucap Bian mengingatkan Tira bahwa kakinya sedang tidak sehat.

“Oh iya ya, lupa! Terlalu semangat pengen sarapan..” jawabnya sembari berjalan ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.

“Semangat pengen sarapan apa semangat pengen jalan sama aku?” lanjut Bian dengan PD-nya.

“Ngga lucu ah, Bab!” teriaknya dari dalam kamar mandi. “Udah deh, kamu kan bawa kendaraan, jadi ngga masalah kan mau cari sarapan di luar?!” jawab Tira saat keluar dari kamar mandi sembari mengedipkan sebelah matanya.

Akhirnya mereka berangkat dengan motor matic berwarna hitam milik Bian menuju tempat sarapan pagi di pinggiran jalan Malioboro. Soto ayamlah sarapan pilihan mereka, dengan segera mereka meminta dua mangkuk soto plus teh manis hangat. Sembari sarapan, mereka pun berceritera banyak hal.

“Ngomong-ngomong ke Jogja ada apaan, sendirian begini pula?” tanya Bian sembari menambahkan satu sendok sambal pada mangkuk sotonya.

“Hmm.. Sebenernya Tira mau nyusulin temen-temen. Mereka udah berangkat duluan ke tempat tujuan liburan kita” jawabnya sembari menikmati soto pesanannya.

“Nyusulin gimana, emang tujuan liburan kemana tho?” lanjut Bian.

“Tira tuh ada ujian susulan, jadinya ngga bisa berangkat barengan mereka. Waktu di kereta, Tira ketiduran sampe akhirnya Tira sadar kalo lagi nyasar” cerita Tira panjang lebar diiringi tawa dari Bian. “Kita tuh rencana liburan bareng di Solo. Tapi gara-gara ketiduran itu, akhirnya Tira turun di Jogja deh, dan ngga tau mau ngapain disini!” lanjutnya.

“Mau ngapain? Disini banyak yang bisa kamu lakuin lho. Ngga usah aku kasih tau, juga pasti banyak hal yang bisa kamu lakuin disini” ujar Bian yang kali ini menengguk teh hangat pesanannya.

“Belanja, jalan-jalan, naek becak, naek andong, datengin toko-toko, makan di selehan. Ya banyak sih, Bab. Tapi kalo sendirian?” jawab Tira berharap Bian bersedia menemaninya selama di Jogja. “Mending kalo kamu mau temenin Tira. Sementara kamu juga kan punya kesibukan..” lanjutnya masih berharap.

Setelah berceritera banyak hal, Bian mengantarkan Tira kembali ke hotel, dan iapun langsung pamit untuk pergi ke kampus.

“Beneran ngga akan ikut aku?” tanya Bian ketika sampai di depan hotel. “Cuci mata loh, nanti tak kenalin juga sama cowok-cowok Jogja di kampusku” lanjutnya.

“Ora ah, kakiku ini lho, Bab!” singkat Tira sembari menunjuk kakinya yang terbalut perban.

“Hallahh, sok Jawa! Ya udah istirahat aja dulu, nanti agak siang aku jemput lagi anter kamu keliling. Aku tak berangkat dulu ya” pamit Bian.

Tirapun masuk ke dalam kamarnya, ia menonton tayangan televisi dan jalan-jalan di hotel. Namun lama kelamaan iapun kesal hanya berdiam diri menunggu Bian yang janji menjemputnya untuk mengajaknya keliling Jogja. Ia tak sabar menikmati panasnya kota Jogja. Akhirnya ia memutuskan jalan-jalan ke luar hotel, dan sampai di Malioboro yang memang tak jauh dari hotelnya. Ia berpetualang seorang diri, keluar masuk toko-toko sendirian.

“Kamu dimana? Kok ngga ada di hotel?” tanya Bian ketika menelepon Tira saat sampai di hotel untuk menepati janjinya pagi tadi.

“Okei, bentar lagi Tira balik kesana. Tungguin ya” jawabnya tenang.

“Ya ampuun, kamu jalan sendirian?!” lanjut Bian sedikit khawatir. “Udah, biar aku yang susulin kamu, kamu dimana sekarang?” sambungnya panik.

“Nih Tira lagi jalan menuju kesitu kok, bentar lagi nyampe” sambungnya lagi sembari menutup teleponnya.

“Belanja? Sendirian? Keadaan kakimu kayak begitu? Kalo di jalan ada apa-apa gimana coba? Kamu kok ngga mau nungguin aku sebentar aja, toh aku ngga bakal bohong sama janji aku?!” ucap Bian sedikit kesal saat Tira sampai di hotel dan terlihat membawa beberapa bungkusan belanjaan.

“Bab, kamu ngambek sama Tira?” ucapnya kebingungan melihat sikap Bian berlebihan seperti itu. “Tira cuma bête aja, cuma ngabisin waktu aja buat jalan-jalan ke depan. Tira ngga kemana-mana, malah nungguin kamu dari tadi” lanjutnya.

“Sini aku bantu” singkat Bian sembari mengambil belanjaan dari tangan Tira dan berjalan menuju kamar Tira untuk menyimpan bawaannya. “Kalo mau kemana-mana tuh kabarin aku, aku ngga marah sama sekali, tapi kamu disini sendirian, kalo ada apa-apa gimana?” lanjutnya.

“Sorry, Bab. Abisnya Tira kesel diem di kamar terus, Tira ..”

“Ya udahlah, terus sekarang mau kemana lagi?” lanjut Bian masih dengan raut kesalnya.

“Tira cuma mau.. Kamu kayak tadi pagi lagi, becandaan lagi, jangan ngambek terus dong..” rayu Tira yang akhirnya diiringi senyuman Bian.

“Kamu sih bandel. Ya udah yuk jalan sekarang, apa udah capek?!” lanjutnya sedikit menyindir Tira.

“Engga ada capek tuh, Tira masih kepengen jalan-jalan. Tapi boleh ngga?” tanyanya.

“Apa?!” singkat Bian.

“Tira pengen keliling Jogja, tapi pake andong yaa.. Pleaseee..” pinta Tira.

“Yo wess ayo..” singkat Bian yang langsung berjalan menuju muka hotel untuk mencegat andong yang akan mereka tumpangi bersama. “Ayo naik duluan” kata Bian sembari membantu Tira menaiki andong, lalu ia duduk di hadapan Tira.

“Tira disebelah kamu ya, takut niiih..” bujuknya saat andong yang ditumpangi mereka mulai berjalan.

“Yo wess sini pindah” jawabnya sembari memegang lengan Tira agar tidak terjatuh.

“Gimana sih, katanya mau naek andong, begitu naik malah takut..” lanjutnya.

“Hmmm, berisik deh..” singkatnya sembari terus memegang lengan Bian dengan kencangnya. “Ya ampun, debar jantung gue.. ” ucapnyanya dalam hati. “Kita kemana dulu nih, Bab?” lanjutnya.

“Keliling keraton Jogja deh, disana bisa foto-foto sambil nambah ilmu juga. Abis itu kita ke TamanSari, kamu bisa liat tuh bangunan-bangunan tua tapi masih kokoh berdiri. Ada juga sih yang retak-retak karena gempa kemarin ini” jawab Bian menjelaskan.

“Oooh gitu ya, Pak guru?” singkat Tira berjokes.

Tidak terasa hari sudah cukup sore, merekapun memutuskan mengakhiri perjalanan di Keraton Jogjakarta, dan kembali ke andong untuk melanjutkan perjalanan. Kali ini Bian mengajak Tira mengunjungi toko kaos yang paling khas dan terkenal di Jogja. Perjalanan merekapun berakhir di tempat makan lesehan di seputaran jalan Malioboro. Tira sangat menikmati malam liburan pertamanya di Jogjakarta bersama Bian, si cinta monyetnya.

***

Pagi ini Tira mendatangi bagian informasi untuk memperpanjang penginapan. Tira masih betah berada di kota ini, dan masih ingin menikmati indahnya kota Jogjakarta, tentunya bersama Bian.

“Hai Cinta, ngurung di hotel aja nih?” tanya Icha, saat menelepon sahabatnya. “Kita lagi di show room batik Solo nih, nyesel deh loe ngga ngikut kita” lanjutnya membuat Tira iri.

“Hmm.. Laki gue nelepon ngga?” ucapnya mengalihkan pembicaraan.

“Engga tuh” singkat Icha. “Trus, kapan loe mau nyusul kita? Emang ngga bête loe disana sendirian?” lanjutnya.

“Siapa bilang gue sendirian? Udah deh gue aman disini. Yang penting gue pesen satu aja, kalo laki gue ngehubungin kalian, jangan sampe lupa bilang kalo gue ada sama loe semua. Ok! Have a nice day” jawab Tira yang langsung mengakhiri pembicaraan mereka, karena sudah tampak Bian di luar kamar yang datang untuk menepati janjinya hari ini.

“Hai, mau minum minum dulu, atau langsung capcus?” tawar Tira.

“Terserah tuan putri deh…” singkatnya.

“Langsung aja yaa, minumnya nanti aja di luar” jawab Tira sembari mengunci
kamarnya. Dan langsung menggandeng lengan Bian menuju depan hotel. “Yuk ..” sambungnya.

“Jangan bilang pengen ke Prambanan pake andong!” ucap Bian. “Lumayan jauh tau, kasian kan kudanya..” sambungnya.

“Ia ia tau kok” singkat Tira yang langsung naik ke motor Bian dan duduk dibelakang lelaki ini.

Sepanjang perjalanan menuju Candi Prambanan, mereka isi dengan canda dan tawa. Bianpun mengajak Tira berhenti sejenak untuk berfoto-foto di sepanjang jalan Monumen Sebelas Maret dan deretan patung-patung presiden RI.

***

Sudah tiga hari ini Tira terus melewatkan liburannya bersama Bian, masih di Jogjakarta. Malam ini, Bian memindahkan foto di kamera digitalnya ke dalam laptop. Kemudian melihat satu persatu potret Tira dan dirinya dari hari pertama Tira berada bersamanya. Senyumpun muncul dari bibirnya.

“Udah tidur, ya?” ucapan pertama Bian saat menelepon sosok yang sedang ia lihat potretnya ini.

“Ia nih, capek banget rasanya..” jawab Tira. “Kamu ngga capek ya, kok belum tidur sih?” lanjutnya.

“Ya baru mau tidur sih.. Aku mau ngomong..” ucapnya yang kemudian teridam sejenak.

“Hmm.. Besok pagi aku ke kampus dulu, jadi ngga bisa nemenin kamu dari pagi” sambungnya.

“Ngga apa-apa, Bab. Jangan sampe absen gara-gara nemenin Tira. See you yaa ..” jawabnya bijak.

***

Sore ini setelah Tira mencari oleh-oleh makanan khas Jogjakarta, Bian sampai di hotel tempat Tira menginap. Mereka berceritera sembari menunggu waktu makan malam tiba.

“Kok udah beli oleh-oleh sih, kayak udah ada rencana balik ke Bandung nih?” tanya Bian.

“Tadi Tira iseng naik becak, terus bapak tukang becaknya nanya, udah beli oleh-oleh apa belum? Ya udah, akhirnya dia anter Tira ke tempat oleh-oleh. Dan kata si mbaknya sih tahan sampe 3 harian lagi nih makanannya..” jelas Tira.

“Berarti kamu ngga nyampe tiga hari lagi ada disini?” lanjut Bian.

Tira hanya mengangkat bahunya menandakan ketidakyakinannya. “Eh, jam 7 nih, sekarang aja yuk!” ajak Tira sembari melihat jam di tangannya. “Tapi kita jalan aja yaa..” pinta Tira.

“Monggo tuan putri…” singkat Bian.

Malam ini Bian mengajak Tira mencicipi kuliner burung dara goreng khas Jogja, masih di tempat lesehan juga.

“Gudeg mulu kan bosen, tho? Yang ini beda.. Di Bandung ada juga sih kayaknya, tapi
khas Jogja ya disini..” pamer Bian.

“Hmm ngga tega Tira makannya, tapi enak juga yaa, garing banget lagi..” saut Tira ketika mencicipi kuliner ini.

Masih di tempat yang sama, setelah selesai makan malam, Bian mengatakan bahwa ia ingin membicarakan suatu hal.

“Apaan sih, sok resmi deh kamu..” singkat Tira.

“Serius, aku mau tanya nih..” lanjut Bian. “Selama disini, tepatnya selama deket sama aku, kalo aku perhatiin kok kamu ngga pernah telepon-telepon orang rumah sih? Smsan juga engga kayanya..” sambungnya.

Tira terdiam sesaat. “Ngga penting banget sih, Bab! Pertanyaan kayak gitu yang kamu bilang serius?!” jawab Tira sedikit emosi. “Duuhh, ngga usah nanya-nanya itu deh, Bab..” ucapnya dalam hati.

“Ya udah, ngga jadi deh aku tanya-tanyanya..” singkatnya yang kemudian juga terdiam sesaat.

Tak lama kemudian, handphone Tira yang berada di atas meja berdering, dan tanpa sengaja Bian melihat nama pemanggilnya. Merekapun saling pandang.

“Kok ngga diangkat, Ra?!” tanyanya sembari masih menatap Tira. Tira hanya menggelengkan kepalanya, Tira terlihat bingung. “Kamu capek ya, mau aku anter pulang?!” lanjut Bian.

“Tira masih mau jalan, Bab” singkatnya masih dalam keadaan bingung. “Kemana ya?” lanjutnya.

“Puter-puter aja ya, pake becak atau andong?” tanya Bian.

“Becak boleh deh..” singkat Tira.

Bian lalu memanggil becak untuk mereka tumpangi, lalu ia mempersilahkan Tira untuk menaikki becak itu terlebih dahulu.

“Ra, aku liat kamu hari ini kok beda sama kemarin-kemarin sih? Kenapa, udah ngga betah disini yah? Apa aku sebagai guidenya kurang bikin puas liburanmu?” lanjut Bian memastikan keadaan Tira.

Lagi-lagi Tira terdiam. Ia bingung antara ingin menceritakan semua permasalahannya agar hatinya sedikit lega, dan ragu jika ada orang yang tahu permasalahannya ini.

“Bab, Tira bener-bener seneng, puas bisa jalan-jalan disini sama kamu. Walaupun sebenernya Tira nyasar dan disini bukan tujuan liburan Tira. Untung Tira punya kamu..” jelas Tira. “Ehmm.. maksudnya, untung Tira punya temen disini, gitu..” lanjutnya segera mengkoreksi kata-katanya.

“Ada yang mau kamu certain ke aku?” tanya Bian ketika mereka bersantai sejenak di daerah alun-alun Kidul sembari memesan jagung bakar.

“Hagh?! Bab, kenapa sihh ..”

“Bukannya aku sok ngeramal ya, tapi dari wajah kamu tuh keliatan banget kalo kamu lagi punya masalah” ucap Bian memotong pembicaraan Tira. “Kamu kalo mau cerita sesuatu, cerita aja. Biar hatimu itu plong rasanya..” sambungnya sambil menikmati jagung bakarnya.

Tira lagi-lagi hanya menggelengkan kepalanya.

***

Keesokan harinya, sore hari setelah menyelesaikan urusan di kampusnya, Bian menjemput Tira yang sudah lama menunggunya di depan hotel.

“Lama ya nunggunya? Sorry ya..” ucap Bian sembari memberikan Tira helm.

“Ngga kok, Tira kesel aja kalo nunggu kamu di dalem kamar..” jawab Tira sembari duduk di motor Bian.

Dalam perjalanannya kali ini, ban motor Bian pecah dan harus dibawa ke bengkel. Tirapun turun dari motor dan sesekali membantu Bian mendorong motornya. Tidak lama merekapun tiba di bengkel, dan sembari menunggu, Bian mengajak Tira ke café yang letaknya tidak jauh dari bengkel. Bian memesankan minuman segar, special sebagai tanda permintaan maafnya. Tira hanya tertawa kecil karena ini pengalaman pertamanya mendorong motor.

“I’m so sorry, Ra… “ ucap Bian merasa tidak enak.

“Nyantai aja, Bab. Toh Tira baik-baik aja kan?!” jawabnya. “Tira ngga bakal nyesel kok jalan sama kamu” sambung Tira sembari meneguk minuman specialnya.

“Ada-ada aja sih tu motor, sampe-sampe kamu jadi ..”

“Engga apa-apa, Bab.. Kenapa sih dipikirin banget hal sepele kayak gini doang?” ucap Tira memotong pembicaraan Bian, memastikan dirinya no problem. “Tira asyik-asyik aja kok” lanjutnya.

“Ra, boleh jujur ngga?” tanya Bian singkat.

“Tentang apa ya?!” jawab Tira penasaran.

Belum sempat menjawab pertanyaan Tira, seorang karyawan bengkel menelepon Bian, memberitahu bahwa motornya sudah selesai diperbaiki.

“Motornya udah beres, Ra. Balik ke bengkel yuk!” ajak Bian.
Mereka melanjutkan perjalanan, kali ini Bian mengajak Tira ke tempat karaoke untuk melepas penat. Menyanyi solo hingga berduet mereka lakukan. Bianpun melihat kembalinya keceriaan Tira, setelah kemarin Tira tampak murung. Setelah dua jam puas bernyanyi, Bianpun mengajak Tira makan malam, kali ini di café sebelah tempat karaoke.

(Kamu takkan pernah mendapatkan cinta. Cinta seperti yang aku berikan kepada kamu. Kamu nanti pasti kan menyadarinya. Saat aku tak lagi ada. Cinta ini, cinta yang tak perlu mendapatkan perasaan cinta. Meski hatiku perih menahan cinta yang terluka, cinta yang buatku luka, cinta yang buatku bertahan, meski ada air mati : Cinta Mati 3 by Mulan Jameela)

“Oia, tadi sore kalo ngga salah, kamu mau jujur sesuatu. Apaan sih?” tanya Tira mengingatkan.

“Sebenernya sih hal kayak gini harusnya ngga usah aku omongin. Tapi kok ngeganjel di hatiku ya?” jelasnya.

“Ya udah, omongin aja..” jawab Tira mempersilahkan Bian membicarakan hal yang ingin diutarakannya.

“Ra, jujur semenjak kamu disini, hidup aku berubah..” singkatnya.

“Berubah? Ke arah yang lebih baik?” tanya Tira.

“Hari ini, malem ini, dan detik ini, aku mau nebelin mukaku deh. Aku mau jujur semuanya, biar hati aku sedikit plong” jelas Bian sembari menatap Tira yang duduk manis dihadapannya. “Aku harap kamu mau denger dan ngerti ya..” sambungnya.
Dengan sebaik-baiknya Tira mendengarkan semua cerita Bian, ia begitu shock ketika Bian jujur akan perasaannya…

“Kamu inget ngga pertama kali reunian angkatan kita?” tanya Bian yang diiringi anggukan kepala dari Tira pertanda Tirapun masih mengingat moment itu. “Waktu itu aku kagum sama kamu setelah sekian lama kita ngga ketemu..” lanjutnya yang kali ini diiringi senyuman dari Tira. “Reunian itu kan kita semua tuker-tukeran nomer handphone? Kamu tau ngga betapa girangnya aku setiap smsan sama kamu?” lagi-lagi Tira hanya tersenyum mendengar pengakuan lelaki dihadapannya ini. “Jujur, Ra, semenjak saat itu aku nyimpen perasaan buat kamu” aku Bian.

“Oh iya? Apa yang bikin kamu kagum sama Tira?” tanya Tira basa basi.

“Itu ngga penting, hanya aku yang tahu kenapa perasaan ini bisa muncul..” jawab Bian yang masih terus melontarkan pembicaraannya. “Setiap ada acara kumpul-kumpul, aku selalu berusaha ngumpulin uang untuk bisa balik ke Bandung dan bisa ikutan ngumpul. Terutama supaya bisa liat kamu dari deket” lanjutnya. “Dan kamu tahu, aku pernah sakit hati sama kamu, dan sakit itu bikin harapan aku mati?!” sambungnya.

“Segitunya?!” Tira semakin penasaaran dan ingin terus mendengar kejujuran Bian.

“Inget juga ngga, waktu kita ngumpul-ngumpul acara buka puasa bareng? Kamu bilang baru putus sama cowok kamu dan kamu cerita bahwa kamu sakit hati minta ampun?!” Tira menganggukan kepalanya. “Aku puas dan bahagia banget denger kamu putus dari mulut kamu sendiri, karena aku ngerasa punya peluang untuk jadi bagian dari hidup kamu. Aku telepon kamu, sms kamu, itu semua usaha aku untuk deketin kamu. Karena cuma itu yang bisa aku lakukan, aku ngga bisa setiap hari nemuin kamu karena aku harus ngejalanin hidup aku di Jogja sini” jelas Bian panjang lebar.

“Terus?” Tira penasaran.

“Ya ternyata usaha aku sia-sia! Aku juga nyesel banget kenapa ngga bisa jujur tentang perasaan aku waktu itu! Aku terlalu pengecut untuk ngomong suka, ngomong sayang, padahal perasaan ini udah cukup lama aku pendam” lanjutnya. Kali ini mata Tira mula terlihat berkaca-kaca. “Aku ngerasa setengah gila waktu aku denger kamu married dan kamu married sama cowo yang kamu bilang bikin kamu sakit minta ampun itu! Ya, kamu married sama mantan kamu yang jelas-jelas pernah bikin kamu sakit!” lanjutnya lagi. “Ra, kamu pasti bisa bayangin gimana sakitnya aku kan? Sampe aku ngga sudi datang ke acara kamu itu!” sambung Bian masih bersemangat membuka kejujuran hatinya. “Dan satu hal terbodoh dalam hidup aku, sejak kamu married, aku berusaha punya hubungan dengan sembarang cewek. Tapi karena perasaan terhadap kamu masih juga belum hilang, aku memutuskan untuk tunangan sama dia, walau tanpa perasaan apapun! Karena aku pikir ini bisa bikin aku lupa sama kamu, Ra!” sambungnya, dan kali ini ia melihat wanita dihadapannya meneteskan air mata.

Kemudian ia terdiam sesaat.

(Kau tak akan bisa buatku menjauh. Dan kau hancurkan aku jika kau pergi dariku membuang hidupku. Ku tak akan bisa menjauh darimu sepanjang hidupku. Ku tak akan bisa melihat dirimu bersama dirinya. Kau kudambakan tapi tak mungkin kudapatkan. Harus kusadari itu : Ku Tak Akan Bisa by Nidji)

“Aku berusaha terus ngejalanin hubungan aku sama dia sebaik-baiknya. Aku berusaha legowo, aku harus bisa nerima kenyataan dan akhirnya aku simpen perasaan terhadap kamu di dalam hati aku. Bukan ngelupain kamu, tapi nyimpen kamu disini” ucapnya sembari menyimpan tangannya di dada. “Dengan kehadiran kamu disini semenjak beberapa hari ini, itu bikin perasaan aku muncul lagi ke permukaan. Ngga bisa aku rem ..” lanjutnya sembari menghapus air mata yang sudah jatuh di pipi Tira. “Kamu terharu denger cerita aku? Kamu iba sama aku?” tanyanya.

“Bian, aku ngga pernah nyangka.. Ngga pernah nyangka kamu punya perasaan itu untuk aku. Selama inipun aku …”
(Tak kusangka dirimu hadir di hidupku. Menyapaku dengan sentuhan kasihmu. Kusesali cerita yang kini terjadi. Mengapa disaat ku telah berdua : Cinta Dua Hati by Afgan)

“Aku apa, Ra?” tanya Bian penasaran.

“Aku juga mendam perasaan yang sama…” jujur Tira sembari masih terus menangis.
Bian terdiam sesat mendengar pengakuan Tira. “Kamu ngga usah berusaha bikin aku seneng, Ra.. Aku cuma ingin jujur supaya hatiku ini sedikit lega” lanjutnya sembari menarik nafas panjang.

“Bian, aku ngga ngada-ngada. Coba kamu pikir, apa pantes waktu itu aku nyatain
perasaan aku duluan? Apa pantes seorang cewek nembak cowok, itu terlalu gengsi buat aku.. Sementara, aku ngga pernah tau perasaan kamu yang sesungguhnya?” jelas Tira.

“Kamu yakin ngomong kayak gini?” tanya Bian masih tidak percaya. Tira hanya menganggukan kepalanya, menundukkan kepalanya terlihat sedikit malu karena telah jujur. Bianpun memberanikan diri memegang tangan Tira yang sedari tadi kaku di atas meja.

“Mungkin ini kesalahan kamu atau juga kesalahan aku yang ngga pernah berani untuk jujur. Dan kenapa harus terungkap disaat keadaan aku udah ngga sendiri lagi kayak gini..” lanjut Tira yang merasa nyaman dengan sentuhan Bian.

“Kamu ngga perlu nyalahin aku ataupun nyalahin diri kamu sendiri, ini hanya waktu yang bisa menjawab” ucap Bian. “Thanks banget ya, Ra kamu juga ternyata .. Ternyata perasaan kita .. Huh aku ngga ngerti harus ngomong apa..” sambungnya sembari tersenyum puas. “Udah malem, kayaknya cuma kita yang nampak betah disini, kita pulang yah, kita lanjutin ngobrolnya nanti” ajak Bian.

Diperjalanan kembali ke hotel, keduanya masih terdiam, karena tidak disangka perasaan mereka ternyata tidak berbeda. Hanya karena tidak berani bicara, Bian harus kehilangan wanita impiannya. Dan hanya karena gengsi, Tirapun harus berusaha melupakan Bian dan memutuskan menikah dengan lelaki lain yang mencintainya. Bian lalu mengantar Tira sampai ke kamarnya.

“Kamu mau masuk dulu?” tanya Tira sembari membuka pintu kamarnya.

“Kalo masih boleh ngobrol sih, aku masih pengen ngobrol banyak, Ra” jawabnya berharap.

“Ya udah, masuk yuk..” ajak Tira dan mempersilahkan Bian duduk di ruang tamu kamarnya. “Aku ambil softdrink dulu ya..” lanjutnya sembari berjalan menuju lemari pendingin di dekat tempat tidurnya.

“Suamimu apa kabar?” tanya Bian membuka perbincangan.

“Baik sih, tapi ..”

“Kenapa?” sambung Bian.

“Aku niat liburan ini, selain liburan semester juga liburan karena aku penat, Bab.. Eh, Bian maksudnya..” ucap Tira yang segera memperbaiki ucapannya.

“Hahaa .. Kaku ya kalo panggil nama aku? Ngga apa-apa kok aku rela dipanggil apa aja sama kamu..” jawabnya sembari masih terus tertawa girang. “Aku semangat banget loh beberapa hari ini. Kamu penyemangat aku dari dulu” lanjutnya. Tira memandang lelaki yang kali ini duduk disebelahnya. “Penat kenapa kamu?” sambungnya lagi.

“Ada sedikit masalah aja, biasa lah.. Tapi aku pergi kayak gini juga dia ngga khawatirin aku kayaknya” jawab Tira sembari meneguk minuman softdrinknya.

“Siapa bilang, dengan dia telepon kamu dan kamu ngga jawab, itu bikin dia khawatir. Aku juga bakal ngelakuin hal yang sama kalo aku ada di posisinya” lanjut Bian.

“Kamu ya kamu, dia ya dia, beda dong..” lanjut Tira.

“Aku masih ngga nyangka loh, keadaan kita, perasaan kita, kok sama yaa?” tanya Bian terlihat bingung.

“Terus kita harus gimana ya, Beib?” sambung Tira.

“Apa? Apa coba ulang sekali lagi, apa aku ngga salah denger?” ucap Bian kegirangan.
Tira menggelengkan kepalanya dan tersenyum.

“Ra, aku jujur sama kamu ini, ngga ada maksud minta kamu ngelakuin apapun dan aku juga ngga akan ngelakuin apapun. Aku ngga mau ngerubah keadaan yang udah terjadi. Kita ngga boleh sesali itu..” ucap Bian bijak, sembari memegang kembali tangan Tira yang halus. Sesaat mereka terdiam. “Besok pagi, aku anter kamu ke stasiun yah, kamu harus pulang” lanjutnya. “Sejujurnya aku ngga mau kehilangan semangat aku, aku ngga mau kamu kembali ke Bandung. Tapi aku ngga bisa egois, tempat kamu bukan disini, kamu bukan untuk aku, Ra. Kamu harus kembali ke suami kamu, kamu punyanya dia..” sambungnya.

“Boleh aku pinjem bahunya?” pinta Tira yang kemudian bersandar di bahu Bian setelah mendapat persetujuan dari Bian.

(Nikmati detik demi detik yang mungkin kita tak bisa rasakan kembali. Hirup aroma tubuhku yang mungkin tak bisa lagi tenangkan gundahmu. Nyanyikan lagu indah sebelum ku pergi dan mungkin takkan kembali. Nyanyikanlah lagu indah untuk melepasku pergi dan tak kembali. By : Lyla)

“Dengan nyasarnya kamu kesini, bikin kita jadi tahu kenyataan yang sebenarnya. Iya kan?” canda Bian diiringi senyuman Tira. “Makasih banget kamu udah denger semua yang ingin aku utarakan. Dan aku bener-bener ngga nyangka kamu juga bikin hati aku bahagia” lanjutnya sembari mengecup kening Tira. “Udah malem, aku pulang ya.. Kamu cepet tidur, biar besok pagi ngga telat pulang ke Bandung” lanjutnya.
Tira menarik dirinya dari bahu Bian, ia mengantar Bian sampai depan pintu kamarnya.

“Udah, jangan jadi pikiran ya semua omonganku tadi. Aku pulang ya..” pamit Bian sembari mengelus pipi Tira dan juga memberikan senyuman manisnya.

Di dalam kamar, sembari membereskan isi kopornya, Tira terus membayangkan sosok Bian, ia juga terus mengingat semua pembicaraannya hari ini. Di atas ranjangnya, Tira tersenyum kecil membayangkan kecupan hangat Bian sampai ia akhirnya tertidur. Sementara Bian, mampir terlebih dahulu ke suatu toko untuk membeli sesuatu dan kemudian kembali ke rumah kontrakannya.

***

Pagi hari ini, Bian sudah diperjalanan menuju hotel untuk menjemput wanita kesayangannya menuju stasiun, dan juga menyaksikan kembalinya Tira ke bandung.

“Pagi cantik ..” ucapnya saat Tira membukakan pintu kamar dan disambut senyuman indah milik Tira. “Udah siap?” lanjutnya sedikit menunjukkan wajah sedihnya.

“Beib, aku mau kasih ini buat kenang-kenangan yah. Aku beli disini juga sih, ngga apa-apalah, bisa kamu pake ke kampus atau kemana kek..” ucap Tira sembari memberikan satu keranjang tas belanjaan berisi beberapa kaos pilihannya.

“Terharu deh aku denger kamu manggil aku “Beib” untuk yang ke dua kalinya.. Makasih ya kenang-kenangannya” lanjutnya. “Udah diperiksa lagi, ngga ada yang ketinggalan?” sambungnya sembari membantu membawakan tas kopor milik Tira.

Diperjalanan menuju stasiun yang tidak jauh dari hotelnya, sekali lagi Bian mengucapkan rasa terimakasihnya. Bian janji liburannya nanti akan mengunjungi Tira di Bandung apapun yang terjadi.

“Ini buat kamu, jangan dibuka disini ya, malu diliatin orang” ucap Bian di kursi tunggu, sembari memberikan sebuah bingkisan kecil berhias pita, terlihat manis sekali.

“Apa nih, kok kamu juga ngerepotin sih, Beib…” jawabnya tersenyum malu.

“Apapun isinya, itu ngga boleh ngerubah keadaan yang udah terjadi. Kamu dan aku harus ngelanjutin hidup kita masing-masing” ucap Bian sembari memegang kedua tangan Tira. “Perasaan kita yang ternyata sama, biar kita simpan dalam-dalam dihati kita masing-masing. Untuk yang terakhir kali, terimakasih untuk kehadiran kamu disini yang penuh arti dan penuh kenangan di kotaku ini” lanjutnya. “Kalo ngga malu, aku juga kepengen nangis kayak kamu. Tapi aku kuat dari dulu ngadepin hati dan perasaan aku ini. Kamu juga harus kuat sama kayak aku..” lanjutnya lagi sembari menghapus air mata Tira yang tidak sengaja menetes lagi. “Love you, Princess…” ucapnya sembari memeluk Tira.

(Cinta adalah misteri dalam hidupku yang tak pernah ku tahu akhirnya. Ku ingin selamanya mencintai dirimu sampai saatku akan menutup mata dan hidupku. Ku ingin selamanya ada disampingmu menyayangi dirimu sampai waktu kan memanggilku. Ku ingin Selamanya by Ungu)
Berat rasanya melepas pelukan itu, namun kereta yang akan ditumpangi Tira sudah tiba. Bian mengantar Tira sampai ke tempat duduknya, memastikan Tira aman di kereta itu. Dan karena sudah ada pemberitahuan kereta ini akan segera berangkat, Bian bersiap untuk pergi dari hadapan Tira.

“Baik-baik ya..” pesan Bian.

“Kamu juga, Beib..” lanjut Tira masih memegang lengan Bian.

“Inget ya, kita ngga perlu ngerubah keadaan. Lanjutin hidup kamu, kamu selalu disini” jawabnya sembari menempelkan tangan Tira di dadanya. Sekali lagi Bian memeluk Tira.

Bian turun dari kereta dan berdiri di luar jendela tepat Tira duduk dikursinya.
“Hati-hati” ucapan terakhirnya diiringi senyum dan lambaian tangannya. Setelah kereta berjalan jauh dan sudah tidak tampak sosok lelaki itu, Tira mengambil bingkisan kecil pemberian Bian dari dalam tas tangannya. Ia lalu membuka bingkisan itu dengan hati-hati.

“Cincin?!” ucapnya dengan diiringi senyumannya. Tak lupa ia membaca sebuah tulisan
yang tertera di kartu ucapannya “Untuk cintaku selamanya..” Ia kemudian memasukkan cincin dan kartu ucapan itu kembali ke dalam kotak dan menyimpannya dalam tas. Lalu ia mengirimkan sebuah pesan singkat “Thanks, tapi aku mau kamu yang pasang cincin itu di jari aku. Aku tunggu kamu di Bandung”

***

Putri Handayani 26 April 2010