Sabtu, 22 Mei 2010

Profesiku, Ibu Guru ..

Menjadi Guru adalah sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan (pernah sih sewaktu usia saya empat tahun, saat saya duduk di bangku Taman Kanak-Kanak, saya pernah bercita-cita ingin menjadi guru TK seperti guru saya saat itu). Guru adalah pahlawan tanpa jasa, begitulah menurut peribahasa. 

Guru adalah orang yang pekerjaannya mengajar. Saya amat menikmati peran saya sebagai pengajar di Taman Kanak-Kanak. Walalupun terkadang kebingungan dengan tingkah mereka yang berbeda-beda, bingung dengan sifat merrka yang masih manja, namun saat melihat mereka tertawa, saat melihat mereka mau belajar bersama saya, melihat mereka bisa menulis dan mengenal angka juga huruf-huruf yang saya ajarkan, apalagi disaat mereka sudah mulai lancar membaca, itulah kepuasan yang saya dapatkan.

Bicara soal guru, saat ini banyak oknum guru yang tidak layak disebut guru. Coba saja lihat beberapa kasus yang beredar di media, kasus-kasus guru yang melakukan kekerasan terhadap muridnya sendiri guru yang "ringan tangan", bahkan yang mencurahkan hasrat seksnya pada muridnya sendiri. Itu sama sekali tidak mencirikan cermin seorang guru.

Ini Aku, Apa Adanya

Posting ini sekadar menceritakan siapa saya, bukan untuk pamer atau hal apapun. Saya lahir dengan nama lengkap "Putri Ayu Handayani" di sebuah kota di timur Indonesia, kota Merauke pada tanggal 16 Maret 1988. Kenapa saya bisa lahir di kota yang sejauh itu? Berdasarkan ceritera dari orangtua saya, saat itu setelah mama dan papa saya menikah, papa dipindahtugaskan ke kota itu, sehingga saya besar di perut mama di kota itu dan dilahirkanpun di kota yang sama. Orangtua saya, papa "Nanan Kusnandi" dan mama "Dwi Wulan Andadari". Saat usia saya dua tahun, mereka mengembalikan saya ke kota asal mama, Cimahi Jawa Barat. Katanya, saat itu saya amat dirindukan oleh keluarga besar, karena semenjak saya lahir mereka belum sempat menengok saya. Saya merupakan cucu pertama perempuan bagi kakek dan nenek saya. Bisa dibayangkan saat itu, pasti saya dipangku bergantian oleh semua keluarga.

Punya adik kecil ..
Ketika saya memasuki jenjang pendidikan Taman Kanak-kanak, orangtua saya memberikan seorang adik kecil "Nanda Dewi Yuniar". Seingat saya, saat itu saya jealous karena orangtua saya lebih memperhatikan adik saya (wajar, perasaan anak kecil usia empat tahun). Saya jadi lebih senang menyendiri sampai menjelang remaja.

Kemudian kami (saya dan adik saya) diboyong ke Bandung karena saat itu alhamdulillah papa sudah bisa membeli rumah sendiri, lagi-lagi orangtua saya memberikan saya adik laki-laki "Faza Aditya Farizki". Saya mengalami pendidikan pertama di sebuah sekolah dasar "SD Kartika Chandra" di sekitar jalan Taman Pramuka Bandung. Disini saya terlihat mandiri, saya mengerti keadaan mama yang sibuk di rumah mengurusi adik-adik sehingga tidak bisa menjemput saya sepulang sekolah (sementara saya iri dengan tema-teman yang dijemput orangtuanya). Namun saat itu, saya berbeda dengan mereka, saya pulang naik angkutan kota (padahal jarak rumah saya di riung bandung lumayan jauh dari sekolah yang berada di taman pramuka). Sayangnya, petualangan saya di Bandung ini berakhir, padahal saya memiliki banyak teman disana. Bersepeda bersama, belajar bersama, mengaji bersama, saya masih ingat beberapa pengalaman bersama teman-teman kecil saya. Orangtua saya memboyong kami kembali ke kota Cimahi saat kakek saya telah kembali pada-Nya. Sayapun meneruskan sekolah di sebuah Sekolah Dasar ("SD Widyawan II) di Cimahi menjadi seorang "anak baru". Karena saya merasa asing, saya hanya menjadi anak yang pendiam, yang hanya bicara jika ditanya, anak yang pasif, berbeda dengan yang lain. 

Lalu sayapun tumbuh menjadi ABG, saya melanjutkan di SMP Negeri 3 Cimahi, saya memiliki beberapa teman disana. Di usia inipun, orangtua saya memberikan adik kembali "Naufal Qodri Ramadhan". Lagi-lagi orangtua saya memberikan hadiah itu. Saya bahagia memiliki mereka, walau terkadang saya harus mengalah untuk mereka, walau saya harus menelan sakit jika orangtua saya membela mereka, walau saya harus selalu menjadi contoh untuk mereka, dan walau saya harus terlihat sempurna di mata mereka.

Cinta Pertama ..
Masih di bangku Sekolah Menengah Pertama, di sini saya menemukan cinta pertama saya (ngga perlu disebutkan nama atau inisialnya). Saya menyukainya, saya sering memperhatikannya dari kejauhan, saya mengaguminya saat itu. Namun tidak ada keberanian dari hati saya untuk membicarakan perasaan saya (saat itu mungkin orang menyebutnya cinta monyet). Bersama sahabat saya "Silfi Annisa", suatu hari saya pernah mengikuti "kecengan" saya ini sampai ke rumahnya dengan tujuan saya mengetahui lokasi rumahnya. (Benar-benar hal memalukan..) Namun karena saya tidak mendapatkan lelaki itu, sayapun ingin mengikuti trend ABG saat itu, yakni "punya pacar". Sayapun menerima "tembakan" seorang pria dengan tujuan ingin menunjukkan pada teman-teman bahwa sayapun bisa memiliki pacar seperti mereka (saat itu saya memutuskan untuk backstreet dari orangtua saya karena saya merasa belum layak untuk menjalin hubungan lebih dengan teman lelaki). Ya, saya sempat dekat dengan beberapa lelaki di usia ini. Sayapun sempat merasa bangga dengan diri saya, dengan nilai raport ber-ranking, saya merasa bahagia bisa membuat orangtua saya tersenyum.

Kemudian saya memasuki usia remaja, saya memasuki sekolah Menengah Atas Negeri 3 Cimahi. Banyak hal yang saya lalui di usia ini, suka duka, tawa dan tangisan pun mewarnai. Saat itu saya sempat menyakiti sahabat saya sendiri, saya merebut kekasihnya yang semula sayapun tidak pernah bermaksud untuk menyakitinya. Mungkin sampai hari ini dia masih tidak mau menganggap saya ada. Sayapun sempat menjalin hubungan dengan beberapa teman satu sekolah, dan saya juga memiliki sahabat baik yang sampai hari ini masih berhubungan baik dengan saya. Lagi-lagi, saya menyukai seseorang saat itu, saya hanya bisa memperhatikan ia dari kejauhan, saya hanya bisa memandangnya sari kejauhan. Itu sudah cukup bagi saya, dia penyemangat saya saat itu. Namun sayang perasaan ini hanya bisa saya pendam dalam hati, karena saya tipe perempuan yang tidak bisa menunjukkan perasaan terlebih dahulu. Sampai akhirnya saya TERPAKSA menjalin hubungan dengan seseorang yang SALAH! Saya amat menyesali adanya hubungan itu!! Tapi apa lagi yang bisa saya lakukan, penyesalan memang selalu di akhir!! Sudahlah, untuk hal ini tidak penting untuk dibahas.

Mencari Jati Diri ..
Di usia ini pun saya ingin mengetahui dan mencari jati diri saya. Saya menyukai seni, terutama modeling dan juga foto. Saya sempat mengikuti sekolah modeling di suatu tempat dan juga sempat mengikuti beberapa lomba modeling. Sayapun menunjukkan pada orangtua saya bahwa saya ingin serius di bidang ini Berulang kali saya mengirimkan foto saya sendiri ke beberapa agency di ibukota. Namun saat saya mendapat surat panggilan untuk casting di Jakarta, orangtua saya terutama papa tidak mengijinkan saya. Ini merupakan hal yang tidak terlupakan, disaat saya ingin menentukan jalan hidup saya, namun orangtua saya kurang mendukung. Hal ini menyebabkan saya lebih pendiam, pemurung, dan penyendiri. 

Saya tahu  dan mengerti papa sangat mengharapkan saya berhasil di dunia pendidikan, bukan di dunia yang lain seperti yang saya cita-citakan. Pada akhirnya saya mengikuti keinginan papa, saya melanjutkan kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta (Unisba) dengan mengambil sembarang jurusan (Psikologi yang saat itu saya pilih). Ternyata saya hanya tahan menjalaninya 2 semester saja. Saya mengeluarkan diri dari sekolah itu!! Saya tahu papa kecewa saat itu, tapi mau bagaimana lagi? Saya tidak tahan lagi berada disana, entah karena alasan apa! Yang pasti saat itu saya yakin "Cita-cita saya tidak mungkin tercapai, karena yang saya butuhkan hanya support dari orang tua saya sendiri"!! Akhirnya saya memutuskan untuk belajar di tempat yang "agak" saya sukai yakni pendidikan Guru taman kanak-kanak, yang memberikan saya banyak pengalaman. Sayapun akhirnya menjadi seorang ibu guru di sebuah taman kanak-kanak. Hal menyenangkan dalam hidup saya bisa menjadi seseorang yang bertugas mulia, walaupun tidak seperti yang papa inginkan. Untuk papaku : "Maafin aku, Pah, sampai hari ini tidak bisa menjadi kebanggaan untuk papa, tidak bisa menjadi contoh yang baik untuk adik-adik, tidak bisa jadi yang terbaik untuk kalian" ...
Pelabuhan Terakhir, Insyaallah..
Di tengah perjalanan saya di usia remaja, saya dipertemukan dengan seorang lelaki (yang saat ini menjadi suami saya). 3 Tahun kami saling mengenal, tidak selalu tawa yang mengiringi perjalanan kami ini. Tidak sedikit godaan yang seolah-olah ingin memisahkan kami. Bahkan ketika saya ingin berpisah, ia begitu mempertahankan saya, entah apa alasannya. Yang pasti, saya tidak tahu apa jadinya saya saat ini jika saat itu ia menerima keputusan saya untuk berpisah. Dan hal inipun tidak hanya sekali terjadi, lagi-lagi ia mengalah dengan terus mempertahankan hubungan ini. Bukan hanya ia yang sering sakit hati dengan kelakuan saya, sayapun sering sekali menangis karena ulahnya. Sampai-sampai disaat kami menjelang hari pernikahan yang telah ditentukan oleh keluarga, saya masih sempat ragu untuk melanjutkan acara besar ini.

Married..
Dengan menyebut "BISMILLAH", saya siap hidup bersama dengannya. 05 Juli 2009 hari dimana kami berjanji disaksikan semua keluarga besar, juga kerabat dekat. Disaat acara siraman (sungkeman tepatnya), rasanya banyak hal yang ingin saya katakan pada kedua orangtua saya. Permintamaafan saya karena sampai saya menikah belum bisa membanggakan mereka, rasa penyesalan saya belum bisa menjadi anak yang berbakti sepenuhnya, dll. Namun hanya bisa saya lontarkan dalam hati saja, saya tidak mampu untuk berkata saat itu, hanya tangisan yang terlihat dari fisik saya. "Terimakasih untuk segalanya, Mama, Papa .."

Mudah-mudahan saya bisa menjadi istri yang baik untuknya dan juga ibu yang baik untuk anak-anak saya kelak. Saya mulai dari hal kecil, berusaha ada disaat ia butuhkan, berusaha menjadi motivator yang baik untuknya, penyemangatnya, belajar memasak untuk membuatnya betah di rumah, dan lain-lain. Untuk suamiku : "Terimakasih bisa nerima aku apa adanya, maaf INI AKU, APA ADANYA, masih banyak kekurangannya.."

Miss You, All

Kangen masa-masa SMA !! Yapp itulah perasaan saya ketika menghadiri acara Pentas Seni di almamater saya SMAN 3 Cimahi. Yang saya harapkan bukan ingin menonton band-band pengisi acara, melainkan bertemu teman-teman yang sudah lama tidak bertemu.

Pangling dan takjub melihat kondisi bangunan sekolah yang semakin maju, kangen dengan bapak-ibu gurunya (apalagi bapak guru yang saat sekolah dulu adalah guru idola), yang pasti kangen dengan teman-teman seperjuangan. 

Masa SMA, masa yang tidak akan terlupakan. Walaupun bagi saya, masa SMA yang saya lalui penuh warna, bukan hanya menyenangkan, namun duka pun tidak sedikit saya rasakan . Hmmm tetapi tidak perlu saya sesalkan, karena saya belajar dari masa lalu itu.

Sebenarnya saya tidak terlalu percaya diri untuk datang ke acara reunian seperti ini. Karena saya belum merasa jadi "sesuatu". Saya masih sama seperti dulu, masih seorang pelajar (mahasiswa tepatnya), masih begini-begini saja. Yang membedakan hanya status, saya sudah melangkah lebih jauh (dalam hal ini menikah), sedangkan yang lain masih single. Tetapi walaupun saya berbeda, apa yang bisa saya tunjukkan?? Baby pun belum saya miliki (hahaa , ujung-ujungnya balik lagi ke baby..)

Jumat, 21 Mei 2010

Sahabatku yang HILANG


"Persahabatan bagai kepompong, mengubah ulat menjadi kupu-kupu.." (by Sindentosca : Kepompong)
Posting ini bukanlah cerpen, melainkan kenyataan dari curahan hati saya semenjak beberapa tahun yang lalu, yang masih terpendam sampai hari ini.

Sudah enam tahun kami tidak saling berbagi.

Saya, Melly (bukan nama sebenarnya), dan Widya (juga bukan nama sebenarnya), saya pikir akan bersama menjaga PERSAHABATAN ini selamanya. Tapi ternyata janji-janji kami untuk selalu bersama itu hanya sekadar tulisan dalam BUKU CURHAT kami yang mudah saja untuk dikhianati!! Setelah lulus dari kelas 1 SMA, kami semakin MENJAUH. Hanya karena tembok sekolah yang memisahkan kami. Saya duduk di bangku kelas 2-A, Melly di kelas 2-B, dan Widya di kelas 2-C. Mungkin Melly merasa NYAMAN dengan teman-teman baru di kelasnya, banyak kegiatan bersama mereka, sehingga ia lupa pada kami (saya dan Widya).

Suatu hari Melly mengundang saya dan Widya untuk datang di acara sweet seventeennya. Tapi entah mengapa saya tidak berminat untuk melangkahkan kaki ini untuk memenuhi undangannya. Tapi, Widya tanpa sepengetahuan saya, ia datang ke pesta itu. Lalu apa yang dilaporkan Widya pada saya sepulang dari acaranya?? Ia SAKIT HATI dan KAPOK tidak ingin lagi berurusan dengan Melly. "Apa penyebabnya??" tanya saya. Dan jawaban Widya ini membuat saya semakin KECEWA pada Melly. Di pesta itu Melly memberikan potongan kuenya pada dua sahabat barunya yang juga bernama SAMA PERSIS dengan saya dan Widya. Itu ALASAN PERTAMA saya ingin JUGA menJAUHI dia.


***
Di kelas 2 SMA ini saya KESEPIAN, tidak ada teman-teman yang mendekati saya (ini karena semasa kelas 1 SMA, saat kami masih bersama, kami termasuk yang tidak disukai orang karena sifat kami yang "belagu" *begitulah yang mereka bilang*). Di kelas baru ini saya merasa asing, sampai akhirnya saya "jadian" dengan COWOK yang SALAH. Hanya dia yang BERSEDIA dekat dengan saya, hanya dia yang BERSEDIA kerja kelompok bersama saya, hanya dengan dia saya MERASA tidak kesepian lagi. Padahal dengan memiliki hubungan lebih bersamanya, saya berDOSA karena kami BERBEDA. Saya tahu itu!! Sementara lelaki yang saya SUKAI, ia tidak pernah tahu akan perasaan saya ini. Melly yang janji membantu saya mendapatkan lelaki itu, tapi dimana ia saat itu? Ini ALASAN KEDUA saya KECEWA padanya, sehingga akhirnya sayapun KETERGANTUNGAN dengan orang yang salah (untungnya hanya 2tahun saya bersamanya).

Kelas 3 SMA, apakah Melly tahu saya KEHILANGAN SAHABAT untuk yang kedua kalinya? Padahal semenjak saya kehilangan dia, saya tidak membayangkan akan kehilangan sahabat kembali. Apakah Melly tahu saya kehilangan RANDY untuk selamanya? Apakah Melly tahu siapa RANDY?? Saya yakin dia tidak akan mengetahui kesedihan saya saat kehilangan pria ini. Dimana Melly saat saya butuhkan?? Sementara inilah ALASAN KETIGA saya !!

***

Sementara setelah kelulusan SMA, tiba-tiba Melly menghubungi saya kembali untuk mencari informasi mengenai salah satu perguruan tinggi swasta (saat itu saya baru lulus ujian saringan masuk di tempat itu). Lalu ia datang ke rumah meminta brosur perguruan tinggi itu pada saya (saya pikir ia benar-benar niat untuk mengikuti saya memasuki perguruan tinggi yang sama). Namun ternyata ia tidak lolos, kamipun tidak jadi menuntut ilmu di tempat yang sama.
***

Lalu tahun ini kami bertemu kembali di account Facebook Saya tidak begitu ingat siapa yang meminta pertemanan terlebih dahulu, dan siapa yang mengajak BICARA terlebih dahulu. Yang pasti saya merasa WELCOME dengan adanya dia di daftar teman saya pada account tersebut. 

Saat saya akan mengakhiri masa lajang, saya tak lupa memberinya undangan yang langsung saya antarkan ke rumahnya. Ini PERTAMA kalinya saya datang lagi ke rumahnya setelah bertahun-tahun tidak berkomunikasi dengannya (saat mengantarkan undangan jujur saya kangen, saya mengingat kembali dahulu sering sekali menghabiskan waktu bersama di rumahnya itu). Saya MASIH menganggapnya pernah menjadi bagian dari hidup saya, saya MASIH menganggapnya pernah menjadi tempat saya berkeluh kesah. Sayapun ingin dia menyaksikan saya menikah dengan pilihan saya (pilihan saya ini belum sempat ia kenal, karena tidak ada kesempatan saya untuk mengenalkan padanya). Syukurlah ia berkenan datang di pesta pernikahan saya.

Sementara Widya, saat ia bertukar cincin, iapun mengundang Melly untuk datang dalam acara syukurannya. Namun sayang Melly tidak hadir entah karena alasan apa. Saya tahu Widya sangat KECEWA!!

***
Untuk sahabatku Melly ..
Kamu pikir BUKU CURHAT kita itu sudah saya SIMPAN di rak buku paling bawah, atau sudah saya MASUKAN DALAM DUS, atau bahkan sudah saya BAKAR?
SALAH BESAR !!! Saya masih menyimpannya baik-baik, karena buku itu SAKSI bisu dari PERSAHABATAN kita.. Sayapun masih sering membukanya, membacanya, dan mengingat kembali kejadian-kejadian yang tertulis disitu. Masih adakah kesempatan untuk kita bersama lagi? Masih adakah harapan untuk mengulanginya lagi? Masih adakah rasa kepedulian diantara kita?? Ataukah kamu sudah tidak ingin tahu lagi tentang saya dan jga tentang Widya????

Waiting For BABY ...



Saya baru selesai melihat gambar-gambar BABY dari beberapa situs internet.

Whaa ..
Rasanya tidak sabar untuk menimang baby. Sudah hampir satu tahun saya dan suami menunggu kedatangannya. Tapi mungkin yang Kuasa belum juga memberikannya pada kami .
Saat keluarga dan juga teman-teman menanyakan kehadirannya "Putri..Gimana, udah isi belum?? Putri..Suksess ngga? Putri..Udah sampe mana kerja kerasnya??", saya hanya bisa menjawab "Amiin, doanya saja yaa ..".
Apalagi selain jawaban itu yang bisa saya jawab. Jujur, saya kecewa sampai saat ini belum juga diberi momongan. Padahal dari hasil pemeriksaan, di rahim saya ini bersih dan tidak ada gangguan apapun. 
Terus apa penyebab saya belum juga bisa memberika baby untuk suami saya dan cucu untuk orang tua saya?? Apa penyebabnya?? Mungkin hanya Allah yang bisa merubah situasi ini.

Apakah harus menggunakan teknologi untuk membantu kami? Tapi masih terlalu dini unutk menggunakannya. Mungkin lagi-lagi, SABAR dan jangan LELAH MENUNGGU. Ya, saya masih semangat untuk berusaha dan terus berdoa memohon padaNya.
Teman-teman, minta doanya juga yaa...

Kamis, 13 Mei 2010

Pahlawan Devisa Negara

Lagi lagi, dari media saya mendengar terdapat perlakuan tidak adil terhadap pahlawan devisa negara kita.

Sebenarnya apa yang menyebabkan para TKW tersebut mendapat berbagai perlakuan tidak adil seperti itu?!

Apakah orang2 di negara tetangga kita ini memiliki sifat2 yang keras,sombong,dan pemarah?

Mengapa mereka tidak menghargai kerja keras para TKW yang jauh2 bekerja mencari sesuap nasi ke negaranya?

Mengapa hanya dibalas dengan kekerasan fisik dan mental?
Patah tulang,terbayang di benak saya para majikan itu memukul dengan sesuatu yang menyebabkan tulang menjadi patah.
Jari jemari terputus,saya rasa para TKW tak pernah membayangkannya. Inginnya hanya mencari nafkah, tetapi bahaya mengancam hidupnya.
Badan disetrika, haloo para TKW ini manusia, bukan kain yang bisa disetrika!
Memar2 di bagian tubuh tertentu,itu sudah jamak didengar. Kebanyakan TKW yang pulang ke Indonesia membawa oleh2 memar di beberapa bagian tubuhnya.

Hanya beberapa TKW yang membawa cerita indah saat bekerja di negara orang...
Ckckck, miris sekali saya mendengar kejadian yang sudah kesekian kalinya ini.

Ataukah kekerasan tersebut terjadi karena para TKW ini yang tidak tahu etika saat bekerja di negara orang, sehingga membuat kesal majikannya?

Terus, bagaimana pemerintah menghadapi kasus yang terus menerus muncul satu persatu ini?

Senin, 10 Mei 2010

Yang Terlewatkan (cerpen)


Meskipun hujan masih terus turun dengan deras, Decha tetap berniat menepati janjinya. Cewek hitam manis ini bergegas dengan Vios hitamnya menuju bandara Halim. Kabar terakhir, pukul 16.50 WIB, seseorang yang ditunggunya sudah akan tiba. Lima belas menit Decha menunggu dalam mobilnya, sembari berharap hujan segera reda. Namun ternyata hujan tak juga reda, ia lalu mengambil payung yang tersedia di dalam mobilnya, dan segera menuju kursi tunggu.

Jam di handphonenya sudah menunjukkan pukul 16.55 WIB, namun belum tampak juga seseorang itu. Dengan rasa cemas, Decha menatap satu persatu orang yang keluar dari tempat kedatangan penumpang.

“Belum ada juga, Gas! Ini gue juga bingung banget, kok dia ngga muncul muncul sih? Mana gue sendirian lagi, coba aja loe tadi ngikut!” ucap Decha memberi kabar pada Bagas lewat telepon genggamnya.

Decha masih menunggu, kali ini ia berusaha menenangkan dirinya. Berulang-ulang Decha melirik jam dihandphonenya, dan sesekali melihat ke arah tempat semula.

“Ya ampun Bagas, ini telepon loe yang ke tujuh tau ngga?! Gue belum ketemu dia! Loe jangan bikin gue tambah khawatir deh, nanti kalo gue udah ketemu pasti gue kabarin loe, kok..” ujar Decha pada Bagas yang lagi-lagi meneleponnya.

“Apa ada masalah ya sama dia? Masak sih dari begitu banyak orang gini, gue belum juga nemuin dia” gerutunya dalam hati. Mudah-mudahan aja ngga ada apa-apa sama dia” harapnya masih dalam hati.

Tak lama kemudian, seseorang menghampiri Decha. Decha yang sedang duduk berpangku tangan, melihat sosok itu perlahan-lahan mulai dari bagian bawah hingga bagian atas. Sepatu keds, blue jeans, dua kopor hitam, satu kopor merah, kaos tanpa lengan, itulah urutan benda yang ia lihat, yang dikenakan sosok yang menghampirinya itu.

“Yulia???” Decha segera berdiri dari duduknya. Dengan sedikit berlebihan, ia lalu memeluk Yulia, sahabat semasa SMAnya. “Apa kabar loe?” lanjutnya sembari mencium pipi cewek berkulit kuning langsat itu.

Yuliapun membalas pelukan Decha “Gue baik-baik aja, loe gimana? Kangen banget gue sama loe..” sambung Yulia.

Sambil terus memeluk sahabatnya, Decha baru tersadar sekelilingnya tengah memandang mereka berdua. “Kayaknya orang-orang ngeliatin kita nih, Yul..” ujar Decha yang segera melepas pelukannya.

“No no, jangan sampe mereka menyalahartikan kita ya..” jawab Yulia, yang disertai tawa keduanya. Decha lalu membantu menggiring satu kopor bawaan Yulia menuju mobilnya, dan segera menggas mobilnya meninggalkan bandara.

“Kita ngafe dulu ya, loe ngga langsung ada acara kan?” tanya Decha diiringi gelengan kepala Yulia. “By the way, kok loe bisa lama banget sih keluarnya? Gue udah panik banget tau ngga, gue pikir ada masalah apa gitu sama kedatangan loe..” lanjutnya sembari terus melajukan mobilnya.

“Ngga kok, ngga ada problem apapun tadi. Ya udahlah, toh sekarang ini gue udah ada di sini kan? jawab Yulia sembari melihat-lihat CD koleksi Decha.

“Nih pasti si Bagas lagi deh!” gerutu Decha ketika handphonenya berdering. Ia lalu mengambil handphone yang masih di saku celananya. “Ia, Gas, gue udah ketemu Yulia kok, sekarang gue mau mampir ke café dulu nih” ujar Yulia sedikit terburu-buru.

“Sayang, ini bunda..” ucap suara diseberang sana.

“Bunda? Decha pikir Bagas, soalnya tadi di bandara dia teleponin Decha melulu. Maaf ya, Bunda” jelas Decha. “Oia, Bun, Decha udah ketemu Yulia, tapi Decha ngga langsung pulang ya, Bun. Soalnya mau ngobrol banyak dulu sama dia” lanjutnya.

“Ya udah, hati-hati ya. Salam buat Yulia, jangan lupa Yulia mampir ke sini” jawab Bunda yang lalu menutup teleponnya.

“Gue pikir si Bagas, gue sampe lupa ngabarin dia. Gue telepon dia dulu ya” ucap Decha. “Eh, tapi gimana kalo loe yang telepon dia? Kan surprise tuh buat dia, sekalian ajak ngafe juga” sarannya.

“Ia, gue juga sampe ngga nanyain dia, bisa kelupaan gini. Tapi kenapa dia ngga ikut jemput gue?” tanya Yulia.

“Ya gue juga pengennya dia nemenin gue, tapi loe tanya aja sama orangnya kenapa ngga bisa ikut” lanjut Decha sembari mencari tempat parkir di café langganannya.

Setelah memesan beberapa makanan camilan dan minuman, tak lama kemudian Bagas datang menghampiri, dan segera memeluk Yulia. “Kangen gue sama loe, loe baik-baik aja?” tanya Bagas yang kemudian duduk di kursi sebelah Yulia.

“Fine, gue baik kok, Gas. Gimana kerjaan loe? Gaya yah, sekarang jadi Pa’ Polisi..” sindir Yulia.

Satu jam berlalu begitu cepat, setelah cukup puas kangen-kangenan, Bagaspun harus kembali bertugas menuju kantornya. Dan karena keluarga Yulia juga menunggu kedatangannya, Decha melajukan mobilnya menuju rumah Yulia.

***

Keesokan harinya, Yulia menjemput sahabatnya untuk memintanya mengantar keliling Bandung, ia begitu rindu akan segala tentang Bandung.

“Oia Dech, hampir aja gue lupa. Ada salam tuh buat loe..” kata Yulia sambil terus menggas mobilnya.

“Salam? Hari gini masih jaman salam-salaman lewat orang lain?” ucapnya sambil melihat ke arah Yulia. Yulia hanya mengangkat kedua bahunya dan tersenyum atas pertanyaan sahabatnya itu. “Masa sih, emang dari siapa?” lanjutnya.

“DONI” jawab Yulia singkat.

“Doni?” tanyanya dalam hati. Mendengar nama itu, semua rasa tercampur di hati Decha. Seneng, kaget, GR, tapi sakit hati juga. Cuma karena satu nama cowok itu! “Tapi ntar dulu, Doni yang mana dulu nih?” tanyanya lagi dalam hati. Lamunannya buyar setelah Yulia memutar CD Rihana dalam mobilnya.

“Kok diem? Why?” tanya Yulia sambil sedikit menggoyangkan badannya mengikuti irama lagu yang di dengarnya.

“Ehm.. Maksud loe Doni yang mana sih, Yul?” tanya Decha sekali lagi, membunuh penasarannya.

“Yang mana lagi sih? Loe ngga pura-pura stupid kan? Temen satu angkatan kita, yang mana lagi sih yang namanya Doni?” jawab Yulia dengan harap Decha tahu Doni yang dimaksud.

“Hmm.. ia juga ya. Mana ada lagi yang namanya Doni, yang satu angkatan sama gue?” pikirnya dalam hati.

“Loe kok jadi diem gitu sih?” selidik Yulia.

“Ngga kok, gue ngga apa-apa, Yul..” jawabnya beralasan. “Doni.. Doni.. kemana aja sih loe? Lama juga ngga denger kabar loe..” ucapnya masih dalam hati lagi. Beberapa menit Decha terdiam, bukan menikmati alunan lagu yang sedang diputar di dalam mobil ini, tetapi terus teringat bayang-bayang Doni. “Kapan dan dimana ya Yulia ketemu sama Doni?” pikirnya sembari menatap ke arah sosok sahabatnya ini. Ia ingin menanyakannya pada Yulia, namun tampak Yulia sedang mengotak-atik telepon genggamnya.

“Dech, tolong kecilin dulu tuh volume tapenya” pinta Yulia. “Huh finally” lanjutnya lagi. “Lagi dimana sih loe, gue hubungin susah banget?” tanya Yulia sedikit ngambek pada orang yang sedang di teleponnya itu. “Engga.. gue mau kasih surprise aja sama loe” sambung Yulia lagi. “Bentar ya, loe langsung ngomong sama orangnya aja nih..” Tanpa basa-basi, Yulia memberikan ponselnya pada Decha.

“Siapa?” tanya Decha sambil melihat layar telepon genggam Yulia, barangkali ia juga tahu nomer yang dihubungi Yulia ini.

“Udaah, loe ajak dia ngobrol aja..” pinta Yulia berbisik, membingungkan Decha. Decha yang masih bengong, malah semakin bingung karena kelakuan anehnya Yulia.

“Ha .. halo?” katanya sedikit terbata-bata. “Aduuh, Yul siapa sih? Gue mesti ngajak ngobrol apaan?” tanya Decha sedikit berbisik, ngga peduli orang itu mendengar ke-begoannya.

“Ini gue Doni!!” ucap suara di seberang sana sedikit berteriak. Suara yang membuat Decha semakin jantungan. “Halo.. halo.. halo..” suara itu terdengar lagi.

“Eh.. sorry sorry. Hai.. Hai apa kabar loe?” tanya Decha basa-basi. Merekapun bertukar nomor telepon dan membuat janji untuk bertemu.

“Ciee.. CLBK dong..” goda Yulia sembari senyam-senyum puas setelah Decha mengakhiri perbincangannya dengan Doni.

“Apaan sih, biasa ajalah!” gerutu Decha.

“Hmmm.. ngambek. Tapi seneng kan loe?” tanpa hentinya Yulia terus menggoda Decha.

“Seneng gimana? Emangnya jaman SMA dulu, ngeliat Doni dari jauh aja senengnya minta ampun..” jawab Decha dalam hati. “Loe tu ya, ngga berubah emang dari dulu, jangan-jangan di New York malah dalemin ilmu comblang-comblangin orang ya?” lanjutnya, balik menggoda Yulia.

“Bisa aja loe. BTW, loe seneng ngga?” tanya Yulia masih penasaran.

“Seneng? Seneng ketemu loe? Ya seneng lah, seneng banget malah!” jawab Decha sembari mengambil telepon genggam dalam tasnya, ia segera memasukkan nomor Doni ke dalam kontak dengan nama “Yang Terlewatkan”.

“Hmm bukan itu, maksud gue apa loe seneng bisa tau kabar Doni lagi? Bisa ngobrol sama Doni, first time kan loe bisa ngobrol sama dia walaupun lewat telepon?” lanjut Yulia yang begitu antusias menyatukan Decha dan Doni.

“Yul, gue udah ngga ngarepin dia lagi semenjak kita lulus SMA. Jadi, kalo sekarang loe tanya perasaan gue, gue biasa aja!” jelas Decha meyakinkan Yulia. “Doni itu masa lalu gue!” lanjutnya lagi.

“Loe tuh ngga usah bohongin diri loe gitu. Waktu gue masih di New York, loe sering banget curhat tentang Doni lewat email loe ke gue. Maksudnya apa coba selain loe masih harepin dia sampai detik ini? Loe tuh..”

“Apaan sih! Ngga lah, Yul..” potong Decha. “Males gue ngelanjutin perasaan gue, gue ngga mau ngejar-ngejar dia lagi. Cukup kebodohan gue semasa SMA aja!!” lanjutnya lagi.

“Hmm, ni orang emang ngga berubah ya. Gimanapun, dia tetep sahabat gue” ucap Yulia dalam hati. “Ya udah, sorry, gue ngga maksud bikin loe ngambek..” lanjutnya.

“Udah ya, ngga usah ngomongin dia lagi, please..” pinta Decha.

Belanja, makan siang, nonton di XXI Ciwalk, foto studio, cukup memuaskan untuk hari ini. Yulia kembali menggas mobilnya, hendak mengantar sahabatnya kembali ke rumah. Setelah makan malam di rumah Decha, Yuliapun berpamitan pada orangtua Decha.

“Loe tidur sini aja dong, kamar gue juga kangen sama loe, udah lama banget kita ngga ada acara nginep-nginepan kan?” pinta Decha saat mengantar Yulia ke depan gerbang rumahnya.

“Lain kali ya, loenya juga masih ngambek kan gara-gara omongan gue tadi?” ucap Yulia sedikit menyesal.

“Ya enggalah, loe kayak baru sekali ini aja nasehatin gue..” jelas Decha berharap sahabatnya tidak salah sangka. “Sorry, gue ngga maksud marah sama loe, gue cuma bingung sama perasaan gue aja..” lirih Decha.

“Sebenernya, kemarin sebelum gue ketemu loe di bandara, gue ketemu sama Doni..” jelasnya. “Yang dia tanya pertama kali, bukan kabar gue, tapi nanyain loe..” lanjutnya. “Akhirnya gue ngobrol sebentar sama dia. Ya, walaupun ngga banyak cerita tentang loe, tapi gue NGERTI banget kenapa dia KAYAK GINI sama loe..” sambungnya lagi.

“Maksudnya, kayak gini gimana?” Dechapun penasaran.

“Yah.. loe tunggu aja, biar dia yang jelasin semuanya. Toh, loe juga besok janjian ketemuan kan sama dia? Pesen gue, loe ngga boleh bohongin perasaan loe. Gue balik dulu ya..” Yulia memeluk sahabatnya ini dan segera menuju mobilnya. “Jangan lupa, besok ceritain ke gue ya pertemuan pertama kalian..” ucapnya dari balik kaca mobilnya.

Decha berjalan menuju kamarnya, cuek dengan sapaan abangnya yang sedang nongkrong depan tivi. Hanya bayangan Doni yang melekat dan perasaan tidak menentu yang hinggap. “Yulia NGERTI banget kenapa Doni KAYAK GINI sama gue, maksudnya apaan sih? Yulia emang sok tahu, atau apa sih yang diceritain Doni ke Yulia?” semakin penasaran, semakin bertanya-tanya, dan semakin ingin mendapat jawabannya. “Kok gue kepikiran Doni ya? Jangan sampe perasaan itu muncul lagi!” lanjutnya sembari menutup tubuhnya dengan selimut.

***


 
Tepat jam setengah tujuh malam, Doni dengan motor gedenya sudah tiba di depan rumah Decha. Sebenarnya, Decha masih bingung kenapa ia mau menerima ajakan makan malamnya Doni. Padahal semenjak lulus SMA, orang yang paling ia benci dan tidak berharap bertemu lagi adalah Doni. Setelah pamitan pada bundanya, Decha segera berlari ke arah teras depan, ingin segera melihat Doni yang dimaksud.

“Ini bener-bener kenyataan, dia beneran Doni yang dulu gue harapin banget!” ucapnya dalam hati ketika pertama kali melihat Doni di depan mata. “Ini mimpi gue sewaktu SMA, kenapa baru jadi kenyataan sekarang??” lanjutnya lagi.

Sepanjang perjalanan, yang menjadi bahan obrolan hanya seputar masa-masa SMA. Membicarakan teman-teman Decha, teman-teman se-genknya Doni, membahas guru-guru killer, membahas sekolah yang sekarang sudah direnovasi abis-abisan, sampai membahas rencana reunian SMA angkatannya. Perjalanan bisa terhitung menit, kira-kira setengah jam mereka sudah sampai di tempat tujuan.


 

Sembari menunggu pesanan datang ke meja mereka, mereka juga banyak berceritera. Sesekali Decha memandang lelaki impiannya ini tanpa sepengetahuan Doni. Ia seakan masih tidak percaya Doni ada di hadapannya.

“Loe udah ada cowok?” tiba-tiba terlontar pertanyaan itu dari bibir Doni.

“Hagh?” tanya Decha terkejut. “Ya ampun.. Jangan sampe dia tau kalo gue lagi mandangin dia tadi..” ucapnya dalam hati.

“Ditanya gitu aja kaget..” ucapnya sembari balik memandang Decha.

“Ngga usah bahas itu deh..” jawab Decha sambil menundukan wajahnya ketika sadar Doni sedang melihat ke arahnya.

“Kenapa, gue ngga boleh tau?” tanyanya singkat. “Kalo loe udah ada yang punya, berarti gue ngga boleh sering-sering ngajak loe jalan. Terus, kalo loe belum ada yang punya, berarti gue bisa terus ngajak loe jalan. Maksud gue gitu, Decha..” lanjutnya lagi.

“Hah?? Doni nyebut nama gue?!” ucapnya dalam hati. “Loe tau nama gue, kirain ngga kenal gue??” lanjutnya sedikit sinis sembari meneguk minuman yang baru diantar waitreesnya.

“Secara dulu kita satu sekolah, pernah satu kelas juga. Walaupun ngga pernah ngobrol, tapi bukan berarti gue ngga kenal loe, bukan berarti ngga tau loe, dan bukan berarti gue ngga merhatiin loe..” jelas Doni panjang lebar, sembari masih menatap ke arah Decha.

“Ucapannya bikin gue GR nih. Gila kali dia, ngomong kok ngga pake basa-basi sih!?” pikir Decha dalam hati.

“Hmm.. oke deh kalo loe ngerasa ngga kenal gue, kita kenalan dulu aja gimana?” ucapnya sedikit bercanda sembari mengulurkan tangannya berharap Decha merespon uluran tangannya itu. “Gue Doni, temen SATU KELAS loe di SMA dulu..” lanjutnya.

“Loe bisa aja deh..” lanjut Decha merespon uluran tangan Doni dan secepat mungkin melepas jabatan tangan itu.

“Bisa juga loe ketawa..” sindirnya. “Ya udah, sekarang itu makanan jangan diliatin aja. Makan dulu yuk, keburu dingin, nanti ngga enak lagi..” ajak Doni sambil membuka sendok yang dibungkus tissue dan kemudian melahap makanan yang dipesannya dua puluh lima menit yang lalu itu.

“Doniii ..” lirihnya dalam hati sembari memandang Doni.

“Diajak makan, malah mandangin gue. Ngeliatnya gitu banget lagi. Kayak ada yang mau loe omongin” katanya sok tau.

“Sok tau ah, udah dilanjut aja makannya..” kata Decha beralasan dan segera memulai makan makanan yang dipesannya tadi.

“Hmm malu sendiri kan? Kalo bukan mau ngomong sesuatu, ngapain juga ngeliatin gue?” tanya Doni lagi sambil senyam-senyum sendiri.

“GR banget sih loe. Gue cuma mau ngomong kalo gue NGGA MAU JATUH CINTA LAGI SAMA LOE!” lanjutnya dalam hati.

“Udah kenyang?” tanya Doni sebelum memanggil waitrees untuk meminta billnya.

Decha menganggukkan kepalanya kemudian berterimakasih atas dinnernya malam ini. “Thanks ya..” singkatnya.

“Thanks juga loe udah mau gue ajak dinner. Jangan kapok ya..” ucapnya sembari memberikan senyum terbaiknya.

Dan Dechapun membalas ucapan Doni itu juga dengan senyuman yang menurutnya adalah senyum terbaiknya. Merekapun segera menuju tempat parkir. “Tunggu bentar ya..” ucap Decha sembari mengambil sarung tangan dalam tasnya.

“Wah loe tau aja deh gue kedinginan gini..” tanpa basa-basi Doni mengambil barang itu dari tangan Decha dan segera memakainya.

“Siapa juga yang siapin sarung tangan ini buat dia? Gue sengaja bawa, karena yakin bakal dingin banget udara malem ini..” kata Decha dalam hati. “Kok gitu sih, terus gue gimana?” tanyanya.

“Tangan loe masuk aja ni ke jaket gue” katanya santai sembari menunjukkan saku di jaketnya.

Perjalanan pulang sangat mereka nikmati. Sembari Doni terus menggas motornya, dengan tangan kirinya ia mengambil tangan Decha yang bersembunyi menahan dinginnya malam di belakang punggungnya, lalu menarik tangan itu untuk masuk ke dalam saku jaket yang dipakainya.

“Dingin ya?” singkatnya. “Thanks banget ya udah mau keluar bareng..” lanjutnya lagi. Karena Decha tidak juga menjawab pertanyaannya, Doni sedikit menoleh ke belakang, ke arah Decha. “Minggu depan, kita keluar lagi ya?” tanyanya berharap kali ini Decha mau menjawab pertanyaannya.

“Wadduuh, mau ngga ya?” tanyanya dalam hati. “Kalo nerima ajakan dia, takutnya nanti gue jatuh cinta lagi sama cowok ini. Tapi kalo gue nolak ajakan dia, takutnya dia kecewa, terus ngga bakal hubungin gue lagi. Duuuh egois banget sih gue ini!” lanjutnya sambil terus berpikir ia atau tidak sama sekali.

“Keberatan ya, Dech..” tanya Doni masih penasaran.

Lagi-lagi, Decha hanya berkata dalam hati “Don.. gue sebenernya sama sekali ngga keberatan. Tapi kalo aja loe tau yang sebenernya gue rasain, yang gue takutin, loe pasti ngerti, Don..”

“Ya udah ngga apa-apa kok kalo loe ngga mau...” ucap Doni seperti berhenti berharap.

“Emmmh.. Emangnya loe mau ngajak gue pergi kemana?” tanya Decha berharap Doni tidak kecewa karena sikap diamnya tadi.

“Ke tempat yang sejuk, cuci mata lah ceritanya..” jawabnya singkat.

“Yang sejuk? Di Bandung mana lagi sih tempat sejuk? Lembang? Dago? Ahh bosen!! Tapi ngga apa-apa lah kalo sama Doni!” ucapnya dalam hati lagi sembari tersenyum kecil.

“Penasaran ngga? Mau ya?” tanya Doni sembari menengok lagi ke belakang, ke arah Decha. “Minggu depan gue jemput loe lagi ya??” ucapnya lagi.

“Biar kita keep contact, mendingan nanti aja deh gue kabarinnya lewat telepon..” lanjut Decha dalam hati. “Nanti kita calling-callingan lagi aja ya” jawab Decha singkat.

“Sekali lagi, thanks ya. Sorry loe sampe rumahnya kemaleman..” kata Doni saat sampai tepat di depan rumah Decha.

Lagi-lagi Decha menganggukkan kepalanya, special plus senyuman dari bibir kecilnya Decha. “Nah loe, biar loe ngga bisa tidur mikirin seyuman gue semaleman, hahaha... GR amat si gue ini!” ucapnya dalam hati sembari memberikan lambaian tangan ketika Doni beranjak pergi dari hadapannya.

***


Satu minggu kemudian..

Tepat jam sebelas pagi, Doni sudah tiba di teras rumah Decha. Sedangkan cewek yang ditunggunya ini masih di kamarnya, masih bingung memilih baju yang akan dikenakannya. “Akhh, kayak jaman SMA aja sih pake bingung segala milih-milih baju!” pikirnya. “Gue bukan mau ngedate kok!” sambungnya sembari memakai pakaian simple pilihannya, kemudian menuju teras untuk menemui Doni.

“Hai.. Sorry banget, lama nunggu ya? Engga kan?” ucap Decha sembari senyam senyum kegirangan.

“Loe ceria banget hari ini? Seneng banget gue liatnya, semangat juga gue ngajak jalannya...” puji Doni pagi ini.

“Masa sih, pengaruh warna baju gue aja kali” jawab Decha sedikit tersipu. “Kita berangkat sekarang, atau loe mau gue buatin minum dulu?” tanya Decha yang sebenarnya basa-basi.

“Ngga usah, nanti aja dijalan..” jawabnya yang kemudian menaikki motornya. “Ada yang ketinggalan, jaket, sarung tangan?” tanya Doni sebelum menggas motornya.

Decha hanya menggelengkan kepala yang berarti meyakinkan Doni bahwa semuanya sudah siap.

“Hari ini bakal nyenengin kayak minggu kemarin ngga ya? Gue harep gitu sih..” harap Decha. “Tapi kok gue ngga diajak ngobrol gini sih? Nanya apaan ya? Nanya kerjaan aja kali ya..” tanyanya dalam hati, ia ingin membuka perbincangan. “Loe tuh sekarang kerja dimana? Hari kerja kok ngga masuk sih?” tanya Decha di seperempat perjalanan sembari menempelkan dagunya ke bahu Doni.

“Libur special aja..” jawabnya singkat.

“Hmm jangan-jangan ngeliburin diri nih.. Ya kan?” Decha mulai memberanikan diri menggoda Doni.

“Kalo ia kenapa? Ngeliburin diri buat loe kok..” singkatnya lagi.

“Hmmm bisa aja, lagi-lagi bikin GR gue. Nanya apa lagi ya?” ucapnya masih dalam hati. “Sebenernya kita mau kemana sih?” tanya Decha penasaran, karena perjalanannya tidak menuju Lembang ataupun Dago seperti yang dibayangkannya.

“Puncak..” lagi-lagi jawab Doni singkat. Jawaban itu ia lontarkan bersamaan dengan diambilnya lagi tangan Decha dan menariknya untuk dimasukkan ke dalam saku jaketnya, seperti yang ia lakukan di perjalanan sepulang dinner satu minggu yang lalu.

Decha kemudian terdiam sesaat, dan bertanya lagi menghilangkan nervousnya, “Puncak apa, yang dimana maksud kamu? Eh maksud gue tu, ya maksud loe puncak yang dimana?” tanyanya sedikit ribet.

“Ya puncak lah, masa loe ngga tau? Di sana ada satu tempat yang pasti loe bakal suka dan ketagihan terus pengen kesana lagi..” jelas Doni sembari tangan kirinya ikut masuk ke dalam saku jaketnya, pelan-pelan ia juga mulai mengelus tangan Decha. “Liat aja nanti ya..” lanjutnya lagi.

Perjalanan memang panjang, tapi tidak terasa akhirnya mereka sudah sampai di tempat yang dimaksud Doni. Benar saja, tempatnya asik, sejuk dan terlihat pemandangan yang indah.

“Gimana? Loe setuju kan tempat ini keren banget?” ucap Doni sembari melepaskan jaketnya. “Buat gue, ini bukit terindah yang pernah gue kunjungin” lanjutnya lagi.

Decha sedari tadi masih terpesona melihat pemandangan di depan matanya, ia sangat menikmati pemandangan dari atas bukit ini. Mereka duduk bersebelahan di atas rerumputan dan terdiam sejenak.

“Dech..” ucap Doni ragu untuk membicarakannya sekarang.

“Kenapa?” Decha terdiam lagi, mengalihkan pandangannya pada pemandangan lainnya.

“Dech, gue..” Doni masih juga ragu. “Loe tau ngga, ini tu namanya Bukit Kupu..” ucapnya mengalihkan pembicaraan.

“Serius? Di Bandung bisa liat bintang di Bukit Bintang, kalau di sini bisa liat kupu-kupu dong?” tanya Decha sok tahu.

“Emang iya.. Setiap jam empat sore, gerombolan kupu-kupu yang entah darimana datengnya, ke bukit ini untuk ngisep madu-madu yang ada di bunga-bunga sebelah situ.” jelas Doni sambil menunjuk tempat bunga-bungaan yang tidak jauh dari tempat mereka saat ini. “Percaya ngga?” tanya Doni meyakinkan.

“Kalau gitu, kita disini sampe jam empat sore ya..” pinta Decha.

“Jangankan sampe sore, sampe besok aja gue mau kok, bahkan bertahun-tahunpun gue mau nemenin loe..” ucap Doni membuat pipi Decha berubah warna.

“Bisa aja loe!” singkatnya sembari tersipu malu.

“Kalo loe senyum gitu, ngga nahan deh gue..” goda Doni menghangatkan suasana.

“Hmmm, gue tau nih. Kalo gue senyum kayak gini, loe ngga bisa tidur semaleman ya kayak seminggu yang lalu? Senyumnya sapa dulu..” ucap Decha narsis.

“Dech, boleh gue ngomong sesuatu?” Doni mulai memberanikan dirinya setelah cukup lama mereka saling terdiam.

Decha melihat ke arah Doni, sesaat mereka saling menatap. “Serius amat loe kayaknya” ucap Decha membuyarkan tatapan mereka.

“Gue ngajak loe kesini, bukan cuma sekedar ngajak jalan. Tapi..” Doni terdiam sejenak meyakinkan dirinya harus mengatakannya saat ini juga. “Gue emang mau ngomong sesuatu sama loe..” Doni berpindah duduk tepat di hadapan Decha. “Loe udah ada yang punya apa belum sih?” tanyanya gugup.

“Itu lagi?” singkat Decha sedikit sinis.

“Dech..” Doni memegang kedua tangan Decha. “Gue butuh jawaban loe itu!” lanjutnya.

“Tapi untuk apa?” tanya Decha sambil melepas sentuhan tangan Doni.

“Gue sayang loe!!” jawab Doni singkat.

“Apa?! Jadi ini jawabannya. Doni beneran punya perasaan juga ke gue?” ucap Decha dalam hatinya sambil terus menatap Doni.

Doni mencoba mengambil kembali kedua tangan Decha.

“Sejak kapan?” tanya Decha pelan, jantungnya berdebar kencang.

“Gue ngga peduli sejak kapan gue punya perasaan ini. Sejak kemarin, sebulan yang lalu, setahun yang lalu, atau bahkan lima tahun yang lalu, loe ngga perlu tau. Yang penting saat ini loe tau perasaan gue kayak gimana.” jelas Doni.

“Terlambat!!!” singkat Decha yang kemudian berdiri dari duduknya, berjalan menuju tempat beribu bunga yang tidak jauh dari tempatnya semula. Doni yang masih duduk terdiam, hanya menatap ke arah Decha. “Kemana aja loe dari dulu, hah?” teriak Decha dari tempat itu. “Kenapa baru sekarang loe dateng ke gue?” lanjutnya sembari menghapus air mata yang sedikit demi sedikit menetes di pipinya. “Kenapa??” lanjutnya lagi.

(Kemana kau selama ini bidadari yang ku nanti? Kenapa baru sekarang kita dipertemukan? Sesal tak akan ada arti, karena semua telah terjadi. Kini kau telah menjalani sisa hidup dengannya. Mungkin salahku melewatkanmu, tak mencarimu sepenuh hati, maafkan aku! Kesalahanku melewatkanmu, hingga kau kini dengan yang lain, maafkan aku! Jika berulang kembali, kau tak akan terlewati, segenap hati kucari di mana kau berada : Yang Terlewatkan by Sheila On 7)

Doni berlari menghampiri Decha dan menghapus airmata yang membasahi pipinya. “Kalo gue tau loe bakal sedih gini, gue bakal pendem aja perasaan gue ini selamanya..” lirihnya sembari memegangi bahu Decha. “Gue ngga mentingin perasaan gue, kok. Dari dulu gue cuma mau liat loe seneng. Tapi kalo gini jadinya, maafin gue, Dech..” ucap Doni menyesali kejujurannya.

“Gue ngga masalah loe ngomong jujur kayak gini, karena emang ini yang gue tunggu dari loe sejak dulu..” jawab Decha lirih. ”Yang bikin gue nangis, cuma masalah waktu aja, kenapa semuanya terlambat kayak gini..” lanjutnya pelan.

“Dari dulu gue selalu ngorbanin perasaan gue. Semenjak loe jadian sama sahabat gue, perasaan gue juga mulai muncul bersamaan..” jelasnya. “Gue ngga mungkin ngambil kesempatan sedikitpun untuk deketin loe, demi sahabat gue. Karena sedikit aja gue berani deketin loe, gue TERLALU TAKUT, gue ngga mungkin ngerebut loe!” Doni mengambil lagi kedua tangan Decha. “Tapi yang loe maksud terlambat itu apa?!” tanyanya penasaran. “Bukannya loe sama dia udah pisah cukup lama kan?” lanjutnya lagi.

“Loe liat ini!” ucap Decha sembari menunjukkan cincin di jari manis tangan kirinya.

“Masih di tangan kiri kan?” tanyanya. “Masih ada kesempatan kan untuk gue milikin loe?” lanjutnya berharap. “Gue ngga maksud ngerebut loe dari tunangan loe yang entah siapa. Gue sempet nahan perasaan gue bertahun-tahun dengan ngalah demi sahabat gue. Tapi kali ini gue NGGA MAU NGELEWATIN loe lagi, gue ngga mau jatuh di kesalahan yang sama…” jelasnya kemudian memeluk wanita dihadapannya ini. “Maafin gue terlambat nyari loe..” lanjutnya sembari terus memeluk Decha.

Sekelompok kupu-kupu pun datang menghampiri bunga-bunga disekitar mereka. “Mereka jadi saksi kita…” ucap Doni yang kali ini tersenyum bahagia. Ia yakin kali ini tidak akan kehilangan wanitanya lagi.

(Bersamamu yang ku mau, namun kenyataannya tak sejalan. Tuhan bila masih ku diberi kesempatan, ijinkan aku untuk mencintanya. Namun bila waktuku telah habis dengannya, biar cinta hidup sekali ini saja : Sekali Ini Saja by Glenn Friedly)


PUTRI HANDAYANI